Kamis, 12 Maret 2015

ULTAH YANG BAU DI RUANG GURU



14 Februari 2015
Sabtu, 14 Februari 2015, katanya hari kasih sayang, sementara hari ini itu adalah hari sabtu, jelas – jelas aku melihatnya di setiap kalender yang ada, hari ini itu adalah hari sabtu, bukan hari kasih sayang, media keterlaluan membohongi publik. Apalagi masyarakat awam yang tak tau apa – apa terlalu banyak mempercayai kabar yang di beritakan oleh media.
Hari ini, bertepatan dengan ulang tahun salah satu guru yang ada di daerah penempatanku. Namanya pak Umar, guru muda yang usianya lebih tua setahun dariku, jadi masih memiliki jiwa – jiwa muda, hanya bedanya di usianya yang sekarang, ia sudah memiliki seorang istri dan sebentar lagi akan di panggil ayah, karena istrinya sedang mengandung. Betapa bahagianya ia, masih muda dan telah berkeluarga, aku juga ingin sepertinya, semoga di percepat dan di permudah. Aamiin.
Pagi hari aku sudah siap untuk kesekolah, kutau hari ini takkan apel pagi, karena hujan turun deras sejak subuh hingga menjelang pagi hari. Namun, aku telah menyiapkan ide kreatif untuk mengganti apel pagi yang tak jadi di laksanakan. Aku meminta seluruh siswa untuk membersihkan kelasnya, baik yang ada di lantai ataupun yang ada di langit – langit kelas dan jendela kelas mereka.
Tapi dengan kegiatan ini, banyaknya siswa pria yang tak bekerja, membuatku sangat risih. Aku pun mengumpulkan siswa pria dari kelas 4 hingga kelas 6 untuk membantuku membersihkan lingkungan sekolah, agar tercipta lingkungan sekolah yang bebas dari sampah. Tak tanggung – tanggung, aku mengajak mereka semua untuk ke bagian belakang gedung kelas mereka, dan meyuruh mereka memungut sampah yang ada di hadapan mereka. “nah, di depan kalian banyak sekali sampah – sampah plastik, bekas minuman, bungkus makanan ringan hingga bungkus permen. Dan ini kalian yang buang dari balik jendela kelas kalian. Maka kalianlah yang memungutnya, jika nanti ada teman kalian yang membuang sampah sembarangan, kalian bisa menegurnya supaya kalian tidak cape – cape lagi dalam memungut sampah. Ok.” Kataku pada mereka semua yang berjumlah 31 orang.
Setelah aku rasa bersih untuk di gedung ini, akupun mengalihkan mereka ke gedung sebelah, gedung para adik kelas mereka, yang tak kalah banyak sampah plastiknya, tanpa komando mereka pun sadar akan apa yang akan mereka lakukan, langsung mengambil sampah dan membuangnya pada tempatnya. Sungguh anak – anak hebat, hanya di beri komando sedikit, mereka langsung siap gerak. Hehehehe
Setelah selesai semuanya, akupun masuk ke dalam kantor dan bersiap – siap beraktifitas seperti biasanya. Tapi hari ini aku ingin beristirahat untuk tidak masuk ke dalam kelas, hanya saja, aku tau diri, guru yang datang tak sebanyak kelas yang tersedia, sehingga aku mencoba untuk masuk ke dalam kelas 6 walaupun tak ada jadwal pelajaran matematika di dalamnya. Di dalam kelas aku memberikan tugas untuk membuat poster afirmasi, sebuah poster yang nantinya akan  memberikan warna baru untuk kelas mereka, lebih banyak pajangan – pajangan yang bakalan menambah wawasan mereka nantinya.
Bunyi bel tanda istirahat membuyarkan pikiranku ketika melihat hasil buatan anak – anak dalam membuat poster afirmasi ala meraka sendiri. Terlebih lagi ketika ada keributan di dalam kelas yang membuat pak Umar jadi basah kuyup di buat oleh pak Deden dan pak Ajum yang telah merencakan penyiraman hari ini, berhubung karena ulang tahun pak Umar yang jatuh di hari ini. Ketika kulihat, pak Umar telah bermandikan air yang tak jelas baunya, air ramuan yang telah dimodifikasi menjadi air yang baunya sangat menyengat, aku pun langsung mengabadikannya dalam bentuk gambar, tapi ketika ku melihat hasilnya, aku tak senang dengan hasil jepretanku, akhirnya aku menggantinya dengan merekem kejadian langka tersebut, hingga pak Umar lari untuk membersihkan diri.
Pak Umar tak keliatan disibukkan dengan pembersihan dari air yang tak jelas tersebut. Aku pun menanyakan mengenai asal muasal air ramuan tersebut, adan aku pun menemukan jawabannya, “air itu pak Sapto gabungan dari terasi 2 bungkus, telur busuk 1 butir, seember air cucian ikan dan tepung” kata pak Ajum menjelaskan dengan semangat. Astaga mengerikan sekali, tinggal di celupin aja di penggorengan yang belum agar kompilt jadi gorengan yang mantap, pikirku dalam hati. Hingga ruang guru menjadi bau yang tak enak untuk di rasakan. Walaupun telah di pel, tapi baunya masih saja menyengat. Sungguh ultah yang bau di ruang guru telah terjadi.
Sore hari aku, berkunjung ke rumah salah satu tokoh yang bisa memberikan banyak cerita mengenai keadaan sekolah diawal berdirinya, ya aku berkunjung ke rumah salah seorang legenda hidup SD yang sekarang aku tempati sebagai sekolah penempatanku selama setahun. Rumah pak H.Rohman, kepala sekolah pertama yang merintis berdirinya SDN Kutakarang 1, lama aku bercengkrama dengan beliau hingga listrik dan waktu yang memisahkan perbincangan kami sore ini. Dan aku pun beranjak untuk main ke rumah Pak Deden salah satu guru muda yang ada di SD. Sudah lama aku diajaknya untuk main ke rumahnya tapi belum sempat aku kesana, dan ketika aku tiba di rumahnya yang tak jauh dari sekolah, sambutan hangat yang aku rasakan, beliau begitu ramah dan baik, tak lupa di akhir aku pamit dia memintaku untuk menginap di rumahnya, dan hal serup asering aku jumpai kepada hampir semua guru yang ada di SD ini. Aku bahagia bisa mengenal mereka, semoga keluarga baru ku ini membawaku dan menempa menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi kedepannya. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar