Minggu, 08 Maret 2015

ATURAN KELAS



10 Februari 2015
Pagi ini kurasakan hawa hangat menyelimuti kalbuku, suara kicauan burung terdengar merdu saling bersaut – sautan berburu dengan suara ayam yang mendayu – dayu tak mau kalah, terdengar pula langkah kaki para petani yang menuju ke ladang mereka masing – masing sambil membicarakan keadaan ladang mereka.
Pagi ini terasa lebih dingin dari sebelumnya, akibat hujan telah turun sejak subuh tadi, aku tak bisa memaksakan untuk mengadakan apel pagi hari ini di sekolah. Tapi aku tak kehabisan akal dalam membuat kebiasaan yang akan aku lakukan di sekolah ini. Apel tak jadi, aku gantikan dengan kegiatan membersihkan kelas masing – masing.
Setelah bel berbunyi tanda jam pelajaran pertama telah di mulai. Akupun masuk ke dalam kelas 6, berhubung ada jadwal pelajaran matematika di sana. Lagipula guru kelasnya tak dapat hadir, berhubung beliau lagi menemani kepala sekolah untuk menghadiri kegiatan di kabupaten.
Kesan pertama ketika masuk ke dalam kelas 6, begitu buruk. Aku mendapati kelas yang begitu kotor, penuh tanah sana sini, sampah berserakan, sontak saja aku langsung memberikan hukuman bagi mereka yaitu membersihkan kelasnya dahulu lalu dimulai pelajaran. Setelah aku pastikan benar – benar bersih, lalu aku mulai untuk belajar.
Aku tak langsung memberikan materi, tapi aku mulai dengan memberikan motivasi tentang pentingnya kebersihan di lingkungan kelas, aku bandingkan dengan rasa kenyamanan ketika belajar dalam kondisi kotor dan bersih, dan akhirnya mereka sendiri yang menyimpulkan bahwa “lebih nyaman belajar dalam keadaan bersih”. Nah, inilah yang menjadi modal awalku untuk membangun pola pikir mereka mengenai kebersihan. Semoga mereka tetap meyakini hal tersebut. Aamiin.
Setelah banyak hal aku memberikan motivasi yang aku selingi dengan pemberian ice breaking, seperti tepuk apresiasi, Gajah dan Semut dan senam coconut. Pembelajaran pun aku mulai tapi tetap di selingi oleh beberapa ice breaking yang aku berikan sebelumnya.
Materi pelajaran hari ini mengenai pengukuran, yaitu pada satuan luas. Sebelum masuk pada materi, aku mengingatkan mereka kembali, mengenai satuan panjang yang berdimensi satu. Setelah mereka mulai mengingat kembali, barulah aku memberikan materi mengenai satuan luas yang berdimensi dua.
Aku memberikan teori terlebih dahulu lalu, aku berikan contoh soal, kemudian aku memberikan soalnya yang akan mereka kerjakan dan akhirnya aku menyuruh perwakilan dari mereka untuk menjawab soalnya di papan tulis. Tapi dari sekian banyak siswa dan siswi di kelas 6 ini, hanya ada seorang siswi yang berani, itu pun sedikit dengan motivasi ringan, yaitu Fitri, siswa yang paling besar dikelas 6, memberanikan diri menjawab soal yang aku berikan, walaupun akhirya jawabannya sedikit keliru. Setelah aku jelaskan secara rinci, barulah mereka paham bahwa, soal matematika tak begitu rumit. Di sinilah aku tersadar bahwa selama ini mereka menganggap bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit akibat dari penjelasan mengenai materi yang mereka dapatkan tidak tuntas, dalam artian mereka hanya mencatat saja, tanpa perlu memahami maksud dan artinya.
Di akhir materi aku memberikan soal latihan sebanyak lima nomor, berharap mereka mampu mengerjakan semuanya dengan benar, aku mengiming – imingkan sebuah burung origami yang aku buat, mereka begitu terkesima dengan apa yang aku buat. “ini ada burung kertas, ada tiga buah, ada warna abu-abu, hijau dan orange, nanti bapak akan berikan kepada kalian yang memiliki jawaban yang paling benar, tiga siswa dengan urutan yang paling atas yang akan mendapatkannya” kataku kepada para siswaku memberikan semangat untuk melakukan yang terbaik saat mereka mengerjakan sesuatu.
Tak lama kemudian satu persatu dari mereka mengumpulkan buku tulis yang mereka gunakan untuk menjawab soal yang aku berikan. Satu persatu aku periksa jawaban mereka, hingga akhirnya tuntas semua, tapi tak ada yang menjawab dengan benar, hanya ada beberapa orang saja yang mendapatkan jumlah salah yang lebih sedikit, itupun jika aku persentasikan hanya sekitar 43% saja, aku begitu miris melihat keadaan ini. Aku bertekad akan melakukan perubahan, walaupun hanya sedikit.
Jam pelajaran terakhir di kelas 6, aku kembali masuk untuk mengajari mereka membuat burung origami, mereka begitu gembira dan sangat antusias. Hal baru yang bagi mereka unik dan indah akan mereka lakukan dengan bantuan guru baru yang ada disekolah mereka, ya itulah aku, aku membawa sesuatu yang membuat mereka heran, hanya sebuah burung origami, banyak siswa dari kelas lain datang melihatku membuatnya. Hingga bel panjang berbunyi tanda berakhirnya waktu belajar di sekolah pada hari ini, akupun segera menuntaskan aktuku dikelas 6, para siswaku pun telah selesai dengan burung origaminya masing – masing dan siap untuk digantungkan di kelas mereka nanti.
Selepas pulang sekolah, aku main ke rumah bu Nunung, ditemani oleh pak Ajum dan pak Deden. Kami bertiga sembari menjenguk beliau yang sudah beberapa hari ini tak datang kesekolah karena sakit. Perjalanan ke rumah beliau sungguh eksotik, melewati kebun kelapa yang tingginya menjulang kelangit, melewati ladang huma, sebuah sawah yang berada di daratan kering tak begitu banyak membutuhkan air seperti pada sawah yang lainnya, dan terakhir melewati sebuah sungai kecil yang airnya begitu jernih. Hingga sore aku disana, dan setelah ashar siswa – siswi ku pada datang di rumah, ada 6 orang yang datang, untuk menghias aturan kelas yang akan kami kerjakan di kelasnya. Dengan peralatan yang seadanya, akhirnya aturan kelas 5 yang kami buat jadi, tinggal nanti bagaimana mereka menjaga dan merawatnya.
Semoga display ini memberikan semangat baru dalam proses belajar mereka kedepannya, tak lupa aku juga menyiapkan tempat untuk hasil karya mereka nanti ketika setiap belajar yang menghasilan karya. Aku hanya berharap ini bukan untuk sementara tapi untuk selamanya. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar