Minggu, 08 Maret 2015

OPERASI SEMUT



5 Februari 2015
Hari ini aku ingin membuat sesuatu hal yang baru, ya untuk membentuk kebiasaan para siswa cinta pada kebersihan di sekitar kelasnya atau di lingkungan sekolahnya. Aku melakukan ketika bel panjang telah berbunyi, aku pun melakukannya seorang diri tanpa di dampingi oleh guru yang berada di sekolah.
Dengan tegas aku menyuruh anak – anak untuk berbaris sesuai dengan kelasnya masing – masing, laki – laki dan perempuan pun berbaris di barisan yang berbeda. Agak butuh waktu untuk menertibkan mereka, wajarlah, mereka tak begitu paham apa yang aku katakan, karena selama ini mereka belum pernah melakukan hal seperti itu, ini kali pertama mereka, jika ada, hanya ketika upacara bendera saja di hari senin, itupun jika hujan tidak turun di hari sebelumnya, yang membuat halaman sekolah menjadi becek dan berair.
Barisan sudah rapi dari kelas satu hingga kelas enam, dan sekali lagi, aku sendirian tanpa ada yang mau membantuku, mungkin mereka hanya ingin melihat aksiku saja. Setelah barisan aku rasa cukup rapi, akupun mulai membuka apel pertama di pagi ini, “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” sapaku pada anak – anak, merekapun antusias menjawab salamku “Wa’alaikum Salam Warahmatulahi Wabarakatuh”, “anak – anak, selamat pagi, mungkin ini baris pertama yang pernah kalian lakukan, kecuali saat ingin upacara bendera saja, tapi hari ini, tanggal 5 Februari 2015, kita akan mulai mencintai sekolah kita agar tetap bersih, sehat dan rapi. Jadi hari ini kita akan melakukan operasi semut, taukah kalian operasi semut?” tanyaku pada anak – anak, “tau pak, yang ada di tanah itu, suka dengan yang manis – manis” kata mereka menimpali pertanyaanku. “ya bukan itu, kalau semut sich benar, tapi ini operasi semut. Operasi semut itu adalah semua memungut, artinya kita semua memungut sampah yang ada di sekitar sekolah kita, jika sudah memungut sampah kalian kembali lagi di barisan ini, jangan dahulu di buang di tempat sampah. Ok” lanjutku memberikan keterangan.
Tak susah memberikan perintah kepada mereka, segera mereka laksanakan apa yang aku perintahkan dengan semangat. Tak lama kemudian mereka kembali ke barisan mereka masing – masing dan akhirnya aku menyuruh mereka untuk mengangkat sampah yang mereka bawa, sekedar untuk memberikan contoh agar tak ada siswa yang tidak memungut sampah, dan ternyata mereka semuanya memungut sampah, itu artinya mereka sangat peduli dengan lingkungan mereka. Dan segera saja aku menyuruh mereka untuk membuang sampah yang mereka bawa dan terakhir kembali lagi ke barisannya untuk bersiap masuk ke dalam kelas, tapi tak lupa aku menyuruh mereka untuk mencuci tangan sebelum masuk ke dalam kelas, agar mereka terhindar dari penyakit.
Hari ini aku masuk ke dalam kelas enam, kelas yang sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir, kira – kira sekitar 3 bulan lagi. Aku khawatir mereka belum mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian tersebut. Di dalam kelas, aku kebanyakan memberikan motivasi kepada mereka, agar senantiasa belajar dan terus belajar.
Awal pembelajaran, aku berikan permainan “walking spidol” atau dalam bahasa indonesia, spidol berjalan. Ketika kusebutkan artinya, banyak dari mereka terheran – heran, bagaimana bisa spidol berjalan? Dan permainan ini aku selipkan pembelajaran matematika di dalamnya yaitu bentuk perkalian yang aku adopsi khusus untuk kelipatannya saja.
Aturan mainnya adalah dimulai dari kesepakatan untuk menggunakan kelipatan berapa, misalnya permainan di mulai dengan kelipatan 4, maka setiap siswa yang mendapatkan giliran saat kelipatan 4 harus mengatakan “boom”, dan selanjutnya angkanya berjalan normal kembali. Pengucapan angka di masing – masing siswa, di ikuti dengan pengucapan angka secara berurutan dan pemindahan spidol setiap selesai mengucapkan angka ataupun boom saat giliranya tiba. Akhir dari permainan ini, jika telah ditemukan beberapa siswa yang salah menyebutkan antara angka dan boom saat gilirannya berlangsung, karena tidak fokus dan tidak konsentrasi.
Permainan ini baru aku lakukan di kelas 6, mereka sangat antusias, apalagi ini baru bagi mereka. Dalam kondisi yang tak begitu baik karena penyakit ambeyenku kambuh, aku tetap semangat dalam melakukan tugasku di dalam kelas. Cukup alot permainan ini berlangsung, hingga akhirnya kutemukan ada 5 orang siswa yang gagal dalam permainan ini, 4 orang laki – laki dan seorang siswi perempuan. Mereka berlima aku hukum dengan bernyanyi lagu balonku ada lima yang seluruh huruf vokalnya diganti dengan huruf ‘o’ tapi siswa yang tak kena hukuman harus duduk rapi dan siap melihat mereka tanpa memperlihatkan gigi sama sekali. “Ini ujian berat bagi mereka” pikirku dalam hati. Tapi sungguh mereka luar biasa, tertawa, tersenyum bahkan ada yang sampai malu – malu, mereka semua bergembira, sungguh bahagianya aku melihat senyuman anak Indonesia yang luar biasa. Aku bangga jadi anak Indonesia.
Sepulang dari sekolah aku beristirahat, lelah melandaku di tambah penyakitku yang tak kunjung membaik. Aku khawatir jika harus di rawat di Rumah Sakit, biayanya dari mana, pikirku menyelimuti pikiranku yang sedang berkelamut dengan segala beban yang ada. Tapi aku sadar ini adalah ujian dari Sang Pemilik Semesta, dan tak mungkin melewati dari batas kemampuanku.
Ketika sore hari, siswaku datang untuk belajar tambahan mengenai matematika yang akan mereka siapkan untuk mengikuti lomba di kecamatan. Sekalian aku menjadikan istana anak dalam tugasku di penempatan. Sebelum maghrib kami memulainya, beberapa soal aku berikan kepada mereka berdua, Rohim dan Sainta, namanya, murid kelas 5 ini telah di tunjuk oleh wali kelas mereka untuk mewakili sekolah. Mereka bukanlah siswa yang begitu pandai tapi aku yakin mereka memiliki sesuatu kelebihan sesuai dengan teori Gardner dalam Multiple Intelegensy-nya.
Hingga setelah maghrib kami lanjutkan kembali membahas soal – soal yang aku berikan kepada mereka berdua, hingga malampun tiba, pembelajaran di tutup dengan teknik cepat melakukan perkalian menggunakan jari atau lebih di kenal dengan istilah “Jarimatika”. Besok akan aku ulangi apa yang kulakukan hari ini, semoga bisa terlaksana. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar