Kamis, 12 Maret 2015

INFUS YANG MENAKUTKAN



15 Februari 2015
Aku masih terjaga hingga dinihari, entah kenapa aku belum merasakan ngantuk yang akan membuatku beristirahat hari ini. Tak bisa mengerjakan tugas dan tak bisa menambah tulisanku hari ini. Entah perasaan apa yang kurasakan malam ini, aku rindu sama keluargaku di Kendari tapi apalah daya tangan tak mampu berjabat dan raga tak mampu bersua, yang bisa kulakukan hanya mengirim doa dan bertemu dengan suara ketika aku menelpon. Tapi sejak hapeku rusak 3 pekan lamanya aku belum sempat untuk menelpon mereka. Aku hanya bisa memandangi wajah mereka di layar laptop.
Pagi ini begitu sunyi, apalagi dengan adanya pemadaman lampu yang melanda daerah penempatanku. Hari ini aku menunggu para siswaku untuk sama – sama membereskan buku – buku yang berada ada di ruang guru. Rencananya, sebelum ke sekolah aku akan beres – beres dan mencuci, berhubung hari ini adalah hari minggu di mana terkenal dengan nama HCS atau hari cuci sedunia. Tapi sangat di sayangkan, karena listrik lagi padam air tak ada di kamar mandi di rumahku, kecuali jika aku mau menggunakan air sungai untuk mencuci, tapi aku akan berpikir dua kali jika melakukan hal tersebut, soalnya nantinya aku akan menjadi promotor kampanye penggunaan air sungai yang baik dan sehat.
Ketika siswaku datang, aku hanya sempat untuk merendam pakaianku dan akan aku cuci ketika air telah ada, dalam artian aku mesti menunggu listrik tidak padam lagi. Hingga akhirnya, aku pun berangkat ke sekolah ditemani para anak – anak yang semangat untuk membenahi buku. Ada 8 orang totalnya dan langsung saja aku bagi menjadi kelompok berpasang – pasangan agar mudah aku kordinir.
Masing – masing kelompok, aku berikan tugas yang berbeda – beda, ada yang meyusun buku pelajaran dari masing – masing tingkatan kelas, ada yang aku suruh untuk mngumpulkan buku bacaan, ada yang aku suruh untuk mengumpulkan buku tematik kurikulum 2013 dan ada juga yang aku suruh untuk membuat papan nama sebagai kode dari buku yang nantiny akan di simpan didalam rak.
Cukup banyak yang kami butuhkan untuk menyusun buku – buku yang ada di ruang guru, walaupun setelah aku prediksi bahwa aku tak bakalan bisa membenahi semuanya, jadi untuk hari ini aku hanya membenahi sebagian besar saja. Ketika sedang membenahi buku – buku ini, aku kaget bukan main, karena banyaknya buku yang bagiku inilah yang namanya jendela ilmu dan bukunya super bagus sekali, buku – buku yang tak pernah tersentuh oleh tangan – tangan mungil generasi bangsa Indonesia. Di tambah lagi banyaknya alat peraga baik yang 3D ataupun yang menggunakan cd pembelajaran interaktif, hanya saja setelah aku berbincang sama salah satu siswa, bahwasanya mereka belum pernah melihat isi – isi dari kaset pembelajaran tersebut.
Sekitar pukul 2 siang barulah kegiatan membenahi buku selesai, aku pun bergegas untuk  pulang, hanya saja belum tiba aku di rumah kabar tak sedap menghampiri telingaku. “Pak, Ajum sedang di infus di rumah” kata ibu yang sempat aku bersalaman di jalan ketika menuju pulang ke rumah, aku sontak kaget, pak Ajum sampai di infus, berarti sakitnya parah dan itu tak aku sadari sedari pagi tadi, batinku berucap.
Sontak aku kaget, di depan rumah telah banyak orang, terlihat pula seorang tenaga medis yang biasanya di sebut oleh masyarakat desa “mantri” seorang yang berprofesi sebagai pengganti dokter atau bisa dikatakan perpanjangan tangan dokter untuk mengobati pasien di daerah terpencil seperti ini. Belakangan aku mengetahui dia bernama pak Juhri, rumahnya di kampung Gadok tak jauh dari rumah kepala sekolahku, pak Dudu.
Terlihat dari dalam rumah sedang tertidur pulas dengan infus yang menancap di lengan sebelah kanan yang telah habis hampir setengahnya. Aku tertunduk takut melihat apa yang sedang terpampang di depanku ini. Teringat dengan kejadian 10 tahun silam yang dialami oleh kakakku yang keempat, menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit dengan infus yang masih tertancap di lengannya. Aku jauh menerawang kejadian yang sama terjadi terhadap seorang pria yang terbaring di hadapanku. Tapi sekali lagi jauh – jauh pikiran itu aku buang dari benakku, agar semua hal yang buruk tidak terjadi lagi. Aamiin
Aku melihat pak Ajum yang sebagai induk semangku itu terbaring lemas, tak mampu aku melakukan pekerjaanku yang lain, bahkan untuk membuka handphone sekalipun aku tak mampu, mau ikut membantu tapi tak tau harus berbuat apa, karena seluruh keluarganya menggunakan bahasa sunda yang aku tak tau sama sekali. Apalagi ketika pak Ajum merasakan kesakitan yang diakibatkan menahan perih yang luar biasa melanda dirinya, aku semakin di buatnya khawatir.
Hingga sore hari, telah terpakai 2 botol infus, dan kondisi pak Ajum telah baikan, sehingga pak mantri segera pamit dan pulang dengan menyimpankan obat buat si pasien. Malam hari aku di kagetkan lagi dengan kondisi pak Ajum yang kembali kejang – kejang menahan sakitnya yang luar biasa. Tak sanggup aku melihatnya, aku hanya bisa mendoakannya dari dekat dan dari jauh saja. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuknya. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar