Minggu, 08 Maret 2015

MEMBENAHI KESALAHAN



8 Februari 2015
Hari ini aku terkejut melihat pembantaian yang terjadi di lapangan hijau. Markas besar Athletico Madrid sebagai saksi bisu betapa tak berdayanya Christiano Ronaldo dan kawan – kawan saat bertandang ke markas besar Athletico Madrid dalam lanjutan Liga Spanyol, pertandingan derby madrid kali ini, CR7 dan kawan – kawan mesti pulang dengan kepala tertunduk, karena dikalahkan tim sekotanya, 4 gol tanpa balas.
Aku menonton pertandingan ini sambil terkantuk – kantuk di gedung koperasi PGRI kecamatan Cibitung melaui laptopku yang kupasang dalam mode live streaming, dengan jaringan yang terkadang baik kadang pula buruk, akibat jaringan yang mesti di gunakan bersama oleh 3 pengguna. Ya 3 pengguna, aku, pak Umar dan Kak Heri yang berada di gedung ini sedari sore tadi. Ada pula pak Uci yang setia menemani kami di gedung ini, mau berdingin – dingin ria menikmati nikmatnya kuasa Ilahi.
Aku tak kuasa menunggu esok pagi, karena aku dan kak Heri berencana mengembalikan laptop punya mba Ulfa yang telah kami install ulang. Jadi beban pikiran juga bagiku dan kak Heri, karena laptop ini, laptop baru dibeli dan sudah tak bisa digunakan, akibat keteledoranku sendiri, aku egois dengan kemampuanku di bidang komputer yang masih seumur jagung. Dalam kondisi uang yang tak ada dan harapan pun tinggal harapan.
Paginya, kak Heri tak bisa memberikan yang terbaik untuk laptop tersebut, berbagai cara kami lakukan, di bantu pula oleh jaringan wifi di gedung ini yang sedari kemaren telah banyak membantu kami, search sana search sini, unduh sana unduh sini, colok sana colok sini, tapi itu semua belum mampu memberikan solusi yang terbaik untuk laptop mba Ulfa.
Semakin siang semakin aku tak enak hati oleh pak Umar yang selalu menemaniku, padahal ia memiliki aktivitas yang lain di luar sana. Aku semakin tak bisa berpikir rasional, pukul 11 mendekati siang hari ini pun aku belum berbenah diri, mandi dan sebagainya, jangankan mandi, makanpun kami belum lakukan, padahal boleh dikata, inilah faktor pertama manusia untuk keberlangsungan hidupnya. Tapi rasanya, perut pun mengetahui betapa sibuknya tuannya, pikirannya lagi kacau balau jikalau harus membawa laptopnya ke kota, apa lah nanti yang bisa di buat oleh mba Ulfa dalam mengerjakan tugas – tugasnya, ada laptop saja belum tentu bisa kami lakukan dengan baik, apalagi ketika tak ada laptop, aaaaarrrrrgggghhhh pengen teriak rasanya, kepala mau pecah, aku takut dan aku tak tau diri. Aku harus membenahi kesalahanku di masa lalu. Entah bagaimana pun caranya.
Sore sudah mulai menampakkan kehadirannya, laptop ini pun tak kunjung membaik, terdengar kabar bahwa hardisknya terkunci dan kami berdua bersama kak Heri belum dapat software perbaikannya. Hingga akhirnya kami sepakat untuk membawa pulang laptop tersebut, sembari kak Heri menanyakan kepada  teman – temannya di grup IT. Kami pulang pun secara bersamaan, sekitar pukul 4 sore kami beranjak dari gedung koperasi PGRI yang sedari kemaren sebagai tempat baru yang aku kunjungi.
Selepas dari gedung koperasi PGRI aku dan pak Umar berangkat menuju jalan yang berbeda. Jalanan yang luar biasa sulitnya, akibat hujan yang melanda sebelumnya. Aku pun sempat mampir kembali di rumah pak Sarman dan berbincang dengan kepala sekolah yang kebetulan ada di rumah pak Sarman. Hampir satu jam aku di sana dan segera berpamitan untuk pulang. Perjalanan pun dilanjutkan menuju ke rumah pak Umar yang melintasi jalanan yang luar biasa beceknya. Melintasi sungai kecil yang memiliki air jernih nan sejuk, tak lupa aku sempatkan untuk mengambil gambar sebagai bentuk rasa syukurku melintasi daerah ini.
Tiba di rumah pak Umar, aku sempatkan diri untuk berbersih diri, mandi dan tak lupa aku disuguhkan makanan, walaupun aku masih merasa kenyang, di rumah pak Umar bertemu dengan ibu dan adiknya pak Umar yang mengajar sebagai sukwan di MTs dan SMK. Menjelang maghrib, aku pun di antar balik ke rumah pak Ajum, seperti biasa jalanan yang kami lalui begitu sempurna untuk mobil offroad melewatinya, kiri kanan, depan belakang penuh dengan tantangan. Tiba di rumah, aku dapati pak Ajum sedang berada dalam selimut tidurnya, beliau sakit dan tak enak badan, ku prediksikan beliau itu karena kecapean, bolak – balik beberapa kali ke pasar cibaliung.
Malam ini aku lalui dengan rasa senang dan terus bersyukur atas apa yang aku alami dan merasa kelelahan akibat rute perjalanan yang begitu dahsyatnya. Membuat setiap orang yang belum terbiasa mengalami sakit dan pegal – pegal. Tapi tetap menjadi pengalaman tersendiri yang selalu aku catat dalam hidup ku inidan akan aku ceritakan kepada orang lain suatu saat nanti, saat waktu yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar