Jumat, 13 Maret 2015

PERKALIAN



17 Februari 2015
Hari ini aku datang lebih awal dari biasanya, pukul 07.30 WIB. Lebih awal karena memang cuaca hari ini baik, cerah dan tak mendung, membuat semangat pagi anak – anak untuk berangkat ke sekolah lebih berasa. Aku pun demikian lebih bersemangat, hanya saja ketika tiba di sekolah, siswa siswi masih pada main ke sana ke sini tanpa memperdulikan kelasnya yang masih kotor yang disebabkan sampah berserakan di mana – mana.
Seperti biasa, aku memberikan perintah kepada mereka agar segera membersihkan kelasnya, tak butuh waktu lama, mereka secara serentak langsung membersihkan kelasnya masing – masing. Sungguh generasi muda ini sangat cekatan dan lugas dalam bekerja, semoga mereka bisa tersadar dengan pentingnya kebersihan lingkungan sekolah mereka. Aamiin.
Apel pagi belum di mulai, rencananya hari ini aku akan mengundang guru untuk bergantian memberikan amanah saat apel, tapi lagi dan lagi, guru – guru tak kunjung nampak dari balik pagar yang terbuat dari kayu tersebut. Aku sedikit berpikir apa yang salah dengan sekolah ini? Kenapa guru – gurunya tak kunjung datang cepat, walaupun aku telah mempercepat waktu kedatanganku ke sekolah.
Setelah apel pun, barulah guru – guru tersebut pada datang semuanya. Tapi aku di sibukkan dengan para siswa yang datang untuk meminjam buku bacaan, antusias mereka untuk membaca buku sungguh di luar akal sehatku, entah ada apa ini, apakah hanya ingin memperlihatkan padaku bahwa mereka semua memiliki hobi membaca? Ataukah hanya ikut – ikutan temannya yang keliatan keren dengan menenteng sebuah buku bacaan dari perpustakaan? Atau hanya sebatas bangga menuliskan namanya di antara deretan peminjam buku di sebuah kertas yang aku buat sebelum mereka datang meminjam? Atau betul – betul bahwa mereka ingin menambah wawasan dan pengetahuan mereka terkait sebuah ilmu? Entahlah aku hanya bisa berprasangka yang baik – baik pada siswaku, semoga mereka bisa menjaga dan memelihara buku tersebut yang masih apik keliatan dari covernya yang masih bersih dan tanpa noda.
Aku mencoba masuk ke dalam kelas 4 yang selama ini aku tak pernah masuk ke dalam kelas tersebut, nah hari inilah saatnya aku berkenalan secara langsung. Sebanyak 20 orang anak di dalamnya, dan mereka sungguh antusias, mungkin karena aku adalah orang baru yang mereka lihat. Setelah dari kelas 4 aku pun kembali ke ruang guru mencoba lebih mengakrabkan diri pada guru – guru yang datang tak terkecuali pak Deden yang hari ini agendanya kami akan menjenguk pak Ajum yang sedang sakit di Pandeglang. Tetapi, kendaraan yang akan kami gunakan ternyata di gunakan oleh sepupu pak Deden untuk menjenguk pak Ajum pula. Akhirnya agenda hari ini, semakin tak jelas, mesti nunggu kendaraan pak Deden datang dari Pandeglang.
Selain pak Deden, aku pun mencoba diskusi dengan guru – guru yang sedang bebas tugas sembari menunggu jam istirahat datang. Banyak permasalahan yang terjadi di sekolahku terutama mengenai uang bantuan operasional siswa yang tak jelas arahnya kemana. Entah nanti mesti usut punya usut bagaimana ya? Yang pastinya aku akan menceritakan hal ini kepada timku di Pandeglang ini berhubung hari kamis lusa kami berenam akan kumpul untuk sama – sama membahas persoalan tim.
Bel istirahat berbunyi sebagai tanda pelajaran sebelum istirahat selesai. Seperti biasa di sekolah selalu ada cemilan sebagai bentuk keakraban yang terjadi di antara para guru – guru yang ada. Setelah istirahat, aku masuk ke kelas 6 untuk mengajarkan mata pelajaran matematika, tapi jadwal pelajaran yang begitu tak baik, karena pagi harinya mereka belajar PJOK, kemudian setelah istirahat belajar matematika, sungguh jadwal pelajaran yang tragis, aku tak senang dengan jadwal seperti ini, lelah fisik karena berolahraga di pagi harinya di tambah lelah pikiran di siang harinya karena ilmu hitung yang begitu sukar bagi mereka.
Aku pun menemukan para siswaku yang tak semangat di awal aku masuk ke kelas. Namun setelah aku berikan ice breaking sekedar untuk menumbuhkan semangat mereka aku pun bisa melihat senyuman dan semangat yang terpancar dari wajah mereka, sungguh betapa bahagianya aku.
Di akhir pembelajaran sebelum pulang sekolah, aku memberikan soal perkalian kepada mereka, siap yang bisa menjawab dengan benar dan cepat akan aku pulangkan lebih dulu. “4x5 sama dengan berapa?” kataku kepada mereka semua, tiba – tiba ada siswaku di belakang yang mengacungkan tangan tanda ingin menjawab soal yang ku berikan. Sentak saja akupun berkata “yap, Nurmin silahkan”, “20 pak” kata Nurmin memberikan jawabannya padaku. “ya, silahkan pulang duluan Nurmin”. Betapa senangnya Nurmin pulang dahulu di bandingkan teman – temannya yang lain. Dan selanjutnya aku pun satu persatu memberikan soal perkalian kepada mereka. Tak begitu susah aku membuat soal perkalian, hanya berkisar di antara perkalian 2 hingga 7. Tapi masih banyak siswaku yang tak paham dengan itu semua. Hingga siswa terakhir yang begitu susah untuk menjawab perkalian yang aku berikan. 7x1 pun di jawabnya dengan 8, mati akal awak pikirku dalam hati. Dan setelah kejadian ini aku pun, berusaha untuk membulatkan tekad agar mereka bisa perkalian, minimal perkalian yang dasar – dasar saja. Aamiin
Selepas pulang seklah aku nyanti seperti biasa bercengkrama dengan pak Sukim, kakak dari pak Ajum yang sedang menjaga rumah. Walaupun aku sadar ingin mengerjakan tugasku dan segera membuka laptop agar semuanya segera selesai. Tapi tak sanggup aku untuk membukanya. Sebeluma aku membuka laptopku, datang pak Deden untuk mengajakku bersiap – siap karena kami akan ke Pandeglang sebentar lagi. Segera saja aku bersiap dan bergegas untuk membereskan barang – barang yang kiranya akan aku gunakan saat keluar kampung. Prediksiku akan balik lagi di kampung di hari sabtu atau minggu nanti.
Tepat pukul 2 siang, aku dan pak Deden berangkat ke Pandeglang, aku sebagai nahkoda kendaraan yang kami gunakan, cukup membuatku kewalahan membawanya di jalan yang berbatu ini, tak hayal di tengah perjalanan kami sempat jatuh dan terguling, untung saja tak terjadi apa – apa dengan apa yang aku alami saat ini. Hingga kami bisa melanjutkan lagi perjalanan menuju Pandeglang. Dan akhirnya kami tiba tepat adzan maghrib berkumandang di rumah sakit berkah yang berada di pandeglang.
Malam harinya, aku, pak Deden dan pak lurah baring bersama di pelataran gedung rawat inap. Kami semua tidak di bolehkan untuk tidur di dalam ruang perawatan pasien, karena pengunjung yang menginap di batasi hanya untuk dua orang saja, sehingga hanya pak Wiryo dan ibunya pak Ajum saja yang berada di sisi pak Ajum. Dan baru terjadi di pengalaman baruku kali ini, bersama pak lurah bermalam di rumah sakit dan tidur di pelataran gedung. Menjadikan cerita seru nanti buat para generasi penerus bangsaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar