Jumat, 13 Maret 2015

LAYAKNYA PEGAWAI BANK



16 Februari 2015
Hari ini tidak seperti hari biasanya, aku terjaga lebih awal mengingat bahwa pak Ajum sedang berbaring lemas menahan penyakit radang lambungnya yang siap kapan saja bisa kambuh menyerangnya. Tak tanggung – tanggung, pukul 02.00 dinihari penyakit beliau kambuh dan membuatku jadi khawatir kembali.
Hingga subuh menjelang, akhirnya pihak keluarga sepakat untuk membawa beliau berobat ke daerah kecamatan agar mendapatkan pengobatan yang lebih baik lagi. Aku betul – betul tak mampu berbuat banyak, setidaknya aku bisa membantu dari segi biaya, tapi apa mau di kata, aku pun saat ini lagi tak memiliki biaya sama sekali. Tanggal 25 yang akan aku tunggu, berharap bisa membantuku dalam menghadapi persoalanku saat ini.
Pak Ajum di bawa menggunakan mobil pick up, karena kondisinya yang begitu mengkhawatirkan. Sempat ia meminta maaf kepadaku jika ia memiliki salah, seperti pesan – pesan terakhir saja pikirku mulai membuatku khawatir. Aku tak konsentrasi dalam bekerja, apa pun itu, entah pikirinaku menerawang jauh kemana – mana tak tentu arah.
Di sekolah pun demikian, aku masih saja khawatir dengan keadaan pak Ajum, dan terakhir aku mendapatkan kabar bahwa, beliau di rujuk ke Pandeglang, guna mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi. Dan sekali lagi aku hanya bisa mendoakannya dari jauh demi keselamatannya. Aamiin.
Hari ini aku memakai busana yang tak biasa. Kemeja lengan panjang warna krem dan memakai dasi. Busana yang menurut orang kampung sangat mencirikan orang kota. Tak khayal mereka mengatakan diriku sebagai layaknya pegawai bank. Aku sedikit kikuk dan malu juga ketika bahasa seperti itu muncul dan menendang telingaku.
Di ruang guru pun, pembahasannya sangat berbeda, lebih berat dari biasanya, membahas mengenai otak kanan dan otak kiri. Dan kepala sekolah pun tertarik dengan apa yang kami bahas. Di kelas pun aku melakukan observasi terhadap pengajaran yang dilakukan oleh guru senior. Banyak yang bisa aku ambil hikmahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar