Jumat, 13 Maret 2015

PESANTREN MIFTAHUL HUDA



19 Februari 2015
Hari pertama aku di tempat ini, hujan terus mengguyur daerah ini tanpa mau berbelas kasih kepada kami yang hanya bisa meratap dingin dari balik jendela, memandangi air yang jatuh dari langit begitu kerasnya tanpa peduli kepada orang – orang seperti kami yang membutuhkan sinar mentari pagi demi kelangsungan pertumbuhan. Namun itu semua takkan aku sesali, setiap titik – titik air yang tumpah dari langit adalah sebuah keberkahan untuk seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Hanya saja aku sedikit tak bisa menikmati indahnya daerah ini karena di selimuti oleh dinginnya air hujan.
Air terus mengguyur daerah ini hingga tengah hari, membuatku dan membuat teman – temanku pada malas beraktivitas, hingga akhirnya perut pun memanggil mereka untuk segera membuat sesuatu yang bisa kami masukkan ke dalam lambung, agar asam lambung kami tetap bekerja optimal yang menyebabkan mereka bisa berfungsi sebagaimana baiknya.
Sarapan kali ini begitu istimewah bagiku, walaupun hanya dengan indomie yang dicampur oleh telur, tapi sangat lezat bagiku. Ini bukan karena sedang lapar, bukan pula karena persoalan gratis, tapi karena hal ini di lakukan oleh kami berenam, ya berenam dengan para guru – guru hebat dari pelosok negeri ini, bersama kak Heri, mba Ulfa, mba Sasni, mba Nur, mba Anti dan aku tentunya yang selalu melengkapi mereka semua.
Masakan kali ini langsung dirangkapkan dengan makan siang, terasa sedikit asin makananku kali ini, karena bumbu dari indomie yang diberikan terlalu banyak, seharusnya memakai rumus “  “ sesuai dengan banyaknya indomie yang di buat, begitulah rumusnya, nanti akan mendapatkan sesuatu rasa yang pas, tidak asin dan tidak hambar.
Selepas makan sembari menunggu listrik menyala kembali, kami sedikit bercerita mengenai pengalamanku di sekolah yang aku dapatkan beberapa hari setelah aku di sana, bingung juga melihat teman – teman ku yang dalam posisi mendengarkan tapi lebih tepatnya dalam posisi akan tidur siang, karena berhubung saat ini sudah menunjukkan lewat tengah hari dan waktunya untuk tidur siang. Hingga akhirnya beberapa dari temanku tertidur sembari mendengarkanku bercerita, ibarat seorang anak sedang  mendengarkan orang tuanya menceritakan sebuah dongeng yang indah. Setelah lampu menyala, kami langsung menyalakan laptop masing – masing untuk menyelesaikan tugas yang belum sempat kelar. Tapi lain lagi jika aku, aku sibuk ingin menonton film Harry Potter yang aku tunda semalam, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, film ketiga dari serial Harry Potter yang sedari dulu aku senang untuk menontonnya.
Setelah itu, barulah aku melihat tugasku kembali sebelum beranjak untuk berangkat ke rumah kepala sekolah mba Ulfa untuk berdialog banyak mengenai kegiatan program. Setelah dari kediaman kepala sekolah mba Ulfa, kamipun berpisah di persimpangan mesjid yang sebelumnya kami mampir dahulu di rumah pak Arta, ketua RT di kampung Tagelan ini.
Aku dan kak Heri pun menyempatkan singgah di mesjid seraya untuk melaksanakan shalat Maghrib secara berjamaah dan ingin mengikuti pengajian rutin yang di laksanakan di kampung ini. Walaupun kami ragu dengan apa yang kami lakukan ini, berhubung kami adalah orang baru yang tak tau apa – apa, tapi harapan kami adalah ingin membangun silaturahmi dengan para penduduk desa ini agar kami kedepannya tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi karena telah memperkenalkan diri di lingkungan masyarakat.
Pengajianpun di mulai dengan di pimpin oleh pak Aden, ketua yayasan pesantren Mifathul Huda, tempatku menginap. Saat sebelum pengajian di mulai, di depanku telah bercongkol sebuah gelas berisi kopi hitam dan sepiring penuh kue tradisional berbagai macam rupa. Disampingku kak Heri duduk bersila dengan rapinya. Ia malah lebih parah, di depannya tersimpan sebatang rokok kretek keluaran dji sam soe seraya mengajak orang yang di dekatnya untuk mendekat dan mengambilnya agar mulai menyalakan api di ujung batang rokok tersebut, tapi sudah dari sananya, kami berdua tak bisa untuk merokok, walaupun mesti di paksa.
Setelah pengajian selesai, barulah kak Heri di berikan waktu untuk bebicara dan di persilahkan untuk memperkenalkan tim kami di Pandeglang. Tak berlangsung lama kegiatan ini dan di lanjutkan dengan shalat isya secara berjamaah.selepas itu, barulah kami pulang kembali ke asrama dan berniat menyelesaikan tugas kami yang masih banyak menumpuk, namun tidak segampang yang kami harapkan. Kami di ajak ngobrol oleh pak Aden hingga larut malam, pukul 11.00. dan barulah setelah beliau pulang, kami melanjutkan tugas kami yang besok harus dikumpulkan dan dikirim melalui email. Kami semua di sibukkan dengan tugas yang aku yakin pasti selesai dalam semalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar