Minggu, 08 Maret 2015

INSYA ALLAH SEHAT



6 Februari 2015
Aku terbangun tengah malam, merasa kesakitan dengan apa yang kurasakan saat ini, penyakitku kurasakan semakin tak bisa diajak kompromi. Aku khawatir dengan keadaanku saat ini. Tapi aku percaya kepada Sang Pencipta bahwa rintangan yang diberikan kepada hambanya tak luput dari kemampuan hambanya itu sendiri.
Pagi ku bangun masih juga merasa sakit, padahal telah meminum obat yang diberikan oleh mba Fitri Setyo Ningrum, atau mungkin belum bereaksi saja ya, pikurku penuh tanya. Tapi apa pun itu aku terus berusaha agar lebih baik lagi, Insya Allah aku sehat.
Hari ini bertepatan dengan tanggal lahir dari mba Ulfa Wardani, sengaja aku dan kak Heri untuk tidak memberikan selamat Ulang Tahun, sebab nanti rencananya kami akan mengucapkannya langsung saat semua tim ketemu diakhir bulan. Disekolah aku mulai menerapkan Operasi Semut yang akan membuat sekolah menjadi sehat dan bersih. Kegiatan kecil tapi Insya Allah bisa memberikan manfaat bagi setiap warga sekolah.
Operasi Semut mulai ku modifikasi sedikit, hari ini kucoba untuk memberikan tambahan diakhir kegiatan, yaitu dengan cara salah satu dari siswa akan memimpin doa sebelum masuk ke kelas masing – masing. Dan untuk berikutnya akan aku modifikasi kembali sesuai dengan kondisi yang kualami di sekolahku, SDN Kutakarang 1.
Diakhir kegiatan operasi semut, setelah semua siswa melaksanakannya, dan setelah doa yang dipimpin oleh Kokom Komalasari, siswi kelas 6 yang merupakan ketua kelas 6, mewakili kelasnya untuk memimpin, dan untuk berikutnya akan di lanjutkan oleh kelas 5 lalu kelas 4 dan kembali lagi kelas 6. Inilah kebiasaan awal yang akan aku berikan kepada mereka. Dan segera saja aku membiasakan mereka untuk mencuci tangan sebelum masuk, sontak saja aku kaget bukan kepalang, ternyata lokasi mereka untuk mencuci tangan itu adalah di sungai, aku tak habis pikir mereka bakalan menggunakan air sungai untuk mencuci tangan, sementara air sungai tersebut sangat keruh dan keliatan kotor. Semoga saja mereka nantinya bisa tersadar dengan apa yang mereka lakukan.
Setelah selesai dalam melaksanakan operasi semut, akupun masuk dalam ruang guru, di sana aku berjumpa dengan para guru yang sedang asyik dengan obrolannya di pagi hari, ada pak Umar, pak Deden, pak Ajum, Bu Iin, pak Uci, pak Aneng dan pak Sapri. Pagi ini sengaja aku tak mau ikut bergabung untuk mengobrol, karena aku ingin merekap target apa saja yang akan aku lakukan selama sebulan ini. Setelah tulis kanan dan tulis kiri, akhirnya aku dapatkan sekitar 11 target yang akan dicapai untuk bulan ini, sungguh banyak juga dalam pikirku, belum lagi kondisi badan ini yang belum sepenuhnya optimal.
Disela – sela kesibukanku, aku perhatikan dua orang siswa kelas 5, Sainta dan Rohim lagi sibuk dengan pena di tangannya mencatat soal yang dibacakan oleh gurunya, pak Umar, sebagai bahan belajar untuk mempersiapkan olimpiade mereka esok hari di kecamatan. Tak tega aku melihatnya, aku pun menghampiri pak Umar dan mulai bercakap, “pak apa soalnya hanya satu ya?”. “iya pak Sapto, hanya ada ini, dan sudah ada jawabannya kecuali di ketik lagi pak Sapto terus di print” kata pak Umar. Akupun langsung menawarkan jasa, “bagaimana jika saya yang ketikkan pak, nanti bapak coba perbaiki printnya?”. “oke pak, cucok” kata pak Umar dengan gaya bicaranya yang khas.
Aku mulai mengetik, soal yang aku ketik ternyata lumayan banyak juga, totalnya ada 50 soal dan beberapa berbahasa Inggris. Inilah soal Sains tahun lalu, sungguh luar biasa, di daerah seperti ini, soalnya menggunakan bahasa Inggris. Lumayan lama aku mengetik soal tersebut, ditambah lagi aku mesti memasukkan gambar yang aku desain sendiri dari insert shapes yang ada di word tempat aku mengetik. Setelah semua selesai, aku berikan kepada pak Umar untuk di cetak. Namun sayang seribu kali sayang, niat hati mau mencetak minimal 3 dari soal tersebut, malah yang mampu di print hanya 1 rangkap. Karena printernya sedikit macet. Ya tapi kami telah bersyukur bisa mencetak soal tersebut, walaupun hanya satu rangkap, minimal ada yang digunakan oleh anak tersebut untuk belajar dan hasil ketikanku tak sia – sia.
Sepulang dari sekolah, tak lupa aku mengingatkan kepada kedua siswa yang akan mengikuti lomba esok hari, agar nanti sore datang di rumah untuk belajar membahas soal yang baru saja aku cetak tadi bersama pak Umar.
Hari ini, hari jumat pertamaku di kampung ini, aku mendadak khawatir saja setiap hari jumat menghampiriku, takut hal yang sama terjadi seperti apa yang dialami oleh seniorku terdahulu di daerah penempatan, yaitu menjadi khatib jumat. Aku masih merasa belum pantas untuk menjadi khatib dan itu selalu menghantuiku. Alhamdulillah di kampung ini telah ada imam dan kiai nya yang secara bergiliran melakukan ceramah tiap jumatnya. Beliau bernama Pak Masli, salah satu tokoh pemuka agama dikampung ini, beliau juga penghulu di kampung ini dan juga sebagai paman dari pak Ajum, tempat aku tinggal.
Aku sedikit heran dengan kondisi masyarakat di kampung ini, anak seusia anak SMP belum dipaksakan untuk shalat jumat, katanya sich masih kecil, lalu akupun sontak mengatakan, “Pak anak kelas 6 aja sudah wajib loch, apalagi yang sudah lulus SD”. Lalu mereka hanya diam seribu bahasa. Saat setelah shalat jumat pun aku merasa kaget, biasanya yang aku alami selama ini, ketika selesai shalat jumat, maka selesailah agenda shalat jumatnya, tapi kaliini yang aku rasakan si  kampung Sodong Gantung ini berbeda, setelah shalat jumat, semua orang berdiri kembali, akupun di bisikkan oleh pak Ajum “ayo pak shalat dhuzur sekarang, langsung lanjut” aku pun sangat kaget, kok shalat dhuzur lagi?padahal shalat jumat itu kan pengganti shalat dhuzur, pikirku berkecamuk dalam benakku.
Tiba di rumah aku pun mengutarakan rasa penasaranku sewaktu di mesjid dan jawabannya simpel saja tapi saya masih sedikit ragu. Alasannya itu “pak di sini itu belum cukup 40 orang yang bisa jadi imam, jadi setelah shalat jumat di lanjutkan shalat dhuzur” begitu timpal pak Ajum. Aku hanya mengangguk saja dan nanti ketika berjumpa dengan kak Heri akan aku utarakan, apa yang aku rasakan ini, pengalaman baru yang kutemukan bertepatan dengan ulang tahun mba Ulfa.
Pasca shalat jumat kali ini, banyak sekali yang berkunjung ke rumah tempat aku tinggal, termasuk ketua komite yang dahulu telah aku datangi rumahnya, pak Janur dan ada juga saudara pertama pak Ajum, aku belum tau namanya, mereka bersama pak Masli, kiai yang aku katakan tadi. Dan di situlah aku berkenalan dengan pak Masli, beliau banyak menanyakan asal usulku dan mengenai kegiatanku di kampung ini. Kami banyak berbincang dari yang ringan hingga yang berat. Dan tak lama kemudian beliau pamit untuk pulang dan tak lupa mengajak aku untuk main ke rumahnya.
Tamu silih datang dan pergi aku sedikit malu rasanya, belum sempat mengunjungi mereka, malahan aku yang di kunjungi. Setelah tadi, pak Janur, pak Masli dan saudara pak Ajum yang datang berkunjung, kini giliran ketua BPD atau Badan Pengawas Desa, pak Aang namanya, beliau masih muda, energic dan semangat tinggi. Sama halnya dengan yang sebelum – sebelumnya, beliau pun menanyakan asal usul ku dari mana, kegiatan ku apa saja dan sebagainya, layaknya seorang wartawan yang meliput berita.
Selepas kunjungan beberapa orang tersebut, aku pun bersiap untuk mengajari kedua siswaku yang akan mewakili sekolahnya dalam kegiatan olimpiade tingkat kecamatan esok. Kami membahas soal olimpiade tahun lalu. Akupun sembari mengingat ilmu yang sudah lama tersimpan rapi di rak lemari otakku di sudut ruangan yang gelap. Sedikit susah aku untuk mengambilnya, ini akibatnya aku sudah lama tak menggunakannya. Jadi sembari mengajar, akupun belajar. Inilah metode yang paling banyak orang lakukan. Belajar kami tak begitu lama, selepas isya kami istirahat dan siap untuk mengikuti lomba esok harinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar