Minggu, 08 Maret 2015

ULAR TANAH



11 Februari 2015
Pagi dengan udara sejuk kembali kurasakan dikampung ini yang begitu menyegarkan dan meyehatkan. Tapi sayang seribu kali sayang, aku belum punya keberanian lebih untuk berolahraga, aku belum bisa maksimal dalam memanfaatkan waktu yang ada, terlalu banyak berleha – leha di depan komputer dan itu membuatku nyaman hingga berjam – jam lamanya. Tapi nanti kedepannya akan aku agendakan, itu janjiku.
Di awal pagi ini, kucoba untuk ke sekolah lebih awal dari biasanya, ingin melihat kebiasaan anak ketika datang di sekolah, ternyata kekhawatiranku benar, mereka, begitu datang langsung main – main, tanpa menghiraukan kelasnya yang kotor dan banyak sampah. Seperti biasa, ketika mereka datang untuk menyalamiku, akupun mengatakan “kelasnya di sapu ya, supaya bersih, nanti pak guru datanguntuk melihat kelas kalian satu per satu”. Begitulah yang selalu aku katakan ketika berjumpa dengan mereka, tak sedkitpun aku lelah untuk mengingatkan mereka.
Apel pagi inipun kubuat berbeda dari biasanya, ku mulai pembimbing pemimpin yang akan membimbing apel pagi ini yang diwakili oleh kelas 5. Awalnya mereka saling tunjuk menunjuk, setelah aku memberi ancaman akan menghukum satu kelas jika tak ada yang mau pimpin, akhirnya ada seorang yang maju untuk menjadi pemimpin, Sainta nama anak tersebut. Ia pun keliatan sangat grogi dan merasa canggung di depan para teman – temannya yang lain. Tapi dengan adanya diriku di belakangnya, yang memberikan masukan dan motivasi akhirnya ia tau apa yang harus ia lakukan.
Aku paham jika metode ini mesti seharusnya aku berikan contoh terlebih dahulu, jadi nanti kedepannya, aku akan memanggil beberapa orang yang akan menjadi pemimpin untuk aku bina sebelum apel berlangsung, agar mereka bisa paham dan mengerti apa yang akan mereka lakukan ketika di depan teman – temannya yang lainnya.
Apel kali ini sengaja aku tak melakukan operasi semut, karena aku ingin melihat kesadaran mereka dengan sekolahnya terhadap sampah. Tapi ternyata aku memiliki ekspektasi terlalu tinggi terhadap mereka. Benar saja, mereka belum sepenuhnya paham bahwa sampah tak boleh di buang sembarangan tempat. Tapi setelah aku pikir – pikir, hal ini dikarenakan tidak adanya fasilitas tempat sampah di masing – masing kelas. Dan mulai terbersit di kepala ku untuk membuat tempat sampah dari ember – ember bekas. Nanti akan aku ajak beberapa siswa untuk membuatnya, pikirku dalam hati.
Hari ini, aku akan masuk ke kelas 5, berhubung ada jadwal matematika di dalamnya. Materi hari ini yaitu mengenai bilangan desimal, aku coba untuk operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan desimal. Setelah menjelaskan beberapa teori mengenai bilangan desimal terutama masalah operasi penjumlahan dan pengurangan, mereka merasa menemukan sesuatu yang telah hilang, raut wajah mereka ceria semuanya, bahagia terasa, karena dulunya mereka tak paham sama sekali, sekarang mereka dengan mudah mengerjakan soal – soal tersebut. Tapi yang aku sayangkan, ketika mereka aku beri soal latihan sebanyak 4 nomor, hanya ada 2 orang dari 28 siswa kelas 5 yang mendapatkan benar 3. Aku sedikit miris, dengan keadaan seperti ini, nanti aku bakalan banyak memberikan latihan soal – soal terkait dengan materi agar mereka terbiasa dengan itu semua.
Setelah mengajar matematika, aku dan anak – anak mencoba menghasilkan karya berupa buku tulis mini yang di dalamnya, mereka mencantumkan cita – cita dan harapan mereka beberapa tahun kedepannya. Benar saja, mereka sangat kreatif dan pandai dalam menggambar, banyak tempat yang mereka ingin kunjungi baik di dalam maupun di luar negeri, aku hanya bisa mengaminkan keinginan mereka pada saat ditempelkan pada salah satu dinding yang telah disediakan di dalam kelas.
Selepas aku mengajar, aku duduk manis di ruang guru sembari membaca buku “Kelana Guru 2 Musim” yang sedari dulu belum khatam aku membacanya dan telah kuniatkan untuk menyelesaikannya hari ini. Tak begitu lama aku membaca buku, kepala sekolah datang dan dimulailah diskusi kecil – kecilan dengan beliau mengenai perkembangan anak untuk sekolah dasar. Banyak hal yang kau pelajari dari percakapan ini. Ternyata kepala sekolahku ini kurang lebih memiliki pemikiran yang sama terhadapku. Nantinya aku akan banyak berbincang – bincang dengan beliau terkait dengan sekolah dan anak – anak, apalagi kedepannya, aku akan mengadakan lomba kebersihan kelas, semoga bisa terlaksana dengan lancar. Aamiin.
Tepat pukul 12.00 siang, bel panjang berbunyi, pertanda bahwa saatnya pulang sekolah. Aku dan beberapa guru masih di dalam kantor, menunggu para guru – guru yang lain meninggalkan kelas yang diajarnya. Karena siang ini, kami akan “ngeliwet” dalam bahasa sundanya, jika di terjemahkan ke dalam bahasa indonesia yaitu acara makan – makan bersama. Ya betul bersama – sama, dengan alas daun pisang, aku dan seluruh yang hadir hari ini, makan bersama, nasi di tuangkan di atas daun pisang tersebut, di tambah lagi ada lalapan sayur dari daun pepaya dan daun singkong, beserta lengkap dengan ikan bakar dan lomboknya. Sungguh luar biasa, menyenangkan, penuh kekeluargaan dan tentunya penuh cinta, ea ea ea..hehehehe
Selepas pulang sekolah aku di sibukkan dengan program istana anak dengan mengajarkan membuat burung origami sebagai bekal mereka untuk menghias kelasnya kelak. Kegiatan ini berlangsung hingga masuk waktu shalat ashar dan aku ajak anak – anak tersebut untuk shalat ashar berjamaah di mesjid yang tak jauh dari sekolah.
Sore harinya selepas pelaksanaan istana anak, aku mulai lagi membaca buku yang belum sempat aku tamatkan. Dan alhamdulillah sore ini aku telah mengkhatamkan buku “Kelana Guru 2 Musim” yang sedari dulu belum kelar aku baca. Selepas shalat Maghrib secara berjamaah dengan pak Ajum. Aku, pak Ajum dan Pak Sapri berkunjung ke kampung Rorah Badak karena ingin mendata beberapa warga yang anaknya akan di masukkan sekolah PAUD oleh ibu lurah.
Perjalanan malam pun aku lalui, dengan hanya bermodalkan senter dengan cahaya seadanya saja. Di perjalanan kami bertemu dengan ular tanah yang ukurannya sekitar 30 cm dan sebesar jari jempolku. Baru kali ini aku temukan ular tanah tersebut yang biasanya hanya aku mendengar cerita dari warga sekitar tempat tinggalku. Untungnya ada pak Sapri yang cekatan untuk membunuhnya, dan kami tinggalkan dalam keadaan telah mati di bawah tumpukan batu.
Setelah keliling ke beberapa rumah warga, aku, pak Ajum dan Bu Lurah akhirnya mendapatkan 11 siswa yang akan masuk di PAUD yang dicetuskan untuk desa kutakarang ini. Sepulang dari kegiatan ini, kami pulang kembali dan sekali lagi bertemu dengan hewan melata yang sangat berbahaya ini. Kali ini ukurannya lebih besar dari yang sebelumnya, tapi Alhamdulillah untung ada pak Sapri yang betul – betul sigap dalam menghadapi hal yang seperti ini. Beliau lalu mengambil sebatang kayu kecil untuk membunuh hewan melata ini, sebelum memakan korban, sebab sudah ada beberapa warga di desa sebelah yang meninggal akibat di pitok oleh ular tanah seperti yang kami temukan malam ini. Mudah – mudahan tak terjadi apa – apa dengan kami hingga tiba di rumah nanti. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar