Senin, 01 Januari 2018

TARGET BARU



#Catatan_FwS
Awal tahun 2018 ini setiap orang memiliki keinginan ataupun harapan yang akan ia wujudkan dan sesegera mungkin untuk merefleksi impian-impian yang dahulu belum terwujud agar diwujudkan di tahun ini. Sama halnya denganku, banyak impian dan harapan yang aku gantungkan biar ia dapat kucapai.
Kisahku, kuawali saat niatanku membuat metode pengajaran yang menyenangkan bagi siswa-siswi ku di sekolah. Beberapa pekan kemarin aku sempat berencana untuk mengubah gaya mengajarku menjadi lebih menyenangkan, apalagi setelah aku di charge di beberapa tempat, sebut saja seminar literasi, seminar internasional kemendikbud dan kemah guru indonesia, semua hal itu membuatku tersadar kembali dari tidurku yang panjang sebagai seorang guru yang mesti mendidik dengan hati dan melakukan semua dengan ikhlas.
Di kepalaku sudah banyak catatan-catatan khusus yang akan aku lakukan untuk menunjang impian serta harapanku ini. Kucoba untuk mencari perlengkapan tempurku di gramedia, berhubung dekat dengan toko itu jadinya aku ke sana. Awalnya berangkatnya sedari pagi, tetapi satu dan lain hal, maka tertunda hingga siang, sebut saja aku tertidur dan istri pun mesti memasak terlebih dahulu. Setelah sholat dhuzur, istri kecapean dan terlelap tidur, akupun tak tega untuk membangunkannya. Sedikit gelisah aku rasakan karena sore ini, aku dan istri berencana kembali ke kost sebab aku besok sudah mulai kerja kembali, kembali ke sekolah untuk mengabdi dan mendidik sepenuh jiwa, hehehehe lebay. Karena mesti pulang sorenya, akhirnya aku niatkan untuk berangkat sendiri membeli perlengkapan, tetapi aku teringat akan tanaman air untuk akuariumku, jadinya aku mampir ke pasar dahulu untuk membeli tanaman air lalu pulangnya mampir ke gramedia untuk membeli kertas buram dan pensil mekanik.
Saat di pasar, aku sempat kebingungan untuk memilih tanaman air yang pas untuk ku simpan dalam akuariumku, banyak pilihan pastinya. Tetapi tak segera aku membeli, aku kunjungi beberapa toko klontongan yang bukalapak di trotoar jalan pasar dekat jembatan penyebrangan orang. Kunjungan di beberapa tempat sejatinya sebagai perbandingan harga saja dan juga biar aku paham harga tanaman air di daerah itu, karena aku biasanya membeli di daerah Depok dekat dengan sekolah tempat mengajarku.
Setelah kurang lebih 2 hingga 3 toko aku sambangi, akhirnya aku jatuh hati melihat tanaman air yang di jual oleh wanita paruh baya di bawah teduhan payung tua berukuran besar yang kutaksir usia payung tersebut tak begitu muda. Aku pun terpikat oleh tanaman hijau yang dimiliki ibu tersebut.
“Berapa harga tanamannya bu?”
“lima ribu satunya de, kalau beli 3, sepuluh ribu saja”
“boleh mana aja kan bu kalau tanamannya? Gak kurang lagi bu harganya?” tawaranku ke ibu penjual tanaman air tersebut.
“gak bisa de ini udah murah, iya boleh pilih mana saja”
Akupun memilih tanaman air yang berbeda, aku membeli 3 jenis tanaman, biar bervariasi, pikirku. Aku membeli tanaman air agar para ikan-ikan dalam akuariumku bisa menikmati sayuran dan tidak hanya lauk saja (baca pelet ikan hias).
Setelah membeli tanaman air tersebut, segera aku menyebrang dan masuk dalam keramaian pasar. Berjalan membelah pasar hingga aku berada di seberang pasar untuk naik angkot kembali ke rumah.
Setibanya aku di depan gramedia, kuminta abang angkot untuk menepikan mobilnya. Setelah transaksi selesai, segera ku beranjak masuk ke dalam toko buku terbesar di daerah tersebut untuk mencari kertas buram. Setelah mencari dan tak kunjung ku lihat, akhirnya aku menanyakan kepada petugasnya. “maaf mas, dimana ya tempat kertas buram, dari tadi saya mencari tapi tidak ketemu” kataku lirih kepada petugas tersebut.
“oh di sini pak, mari saya antar”
Kemudian kami menuju tempat penyimpanan kertas buram tersebut, gak jauh dari tempatku mencari, namun sayang tadi tidak aku lihat jadinya merepotkan petugasnya untuk mengantarku. “ini berapa banyak mas?”
“ini 20 lembar pak, ukuran 60 x 90 cm”
“yang ini sama juga mas, ukuran berapa?” sambil ku angkat kertas buram lainnya.
“sama pak itu ukurannya dan jumlahnya juga sama”
“ok terimakasih”
Lalu aku segera mengambil satu gulung kertas buram tersebut, tapi sebelum aku beranjak, aku ingat bahwa aku tidak memiliki pensil mekanik lagi, terakhir dipinjam oleh wakasek kesiswaan saat kegiatan di sekolah dan tak kunjung dikembalikan, akupun agak segan menanyakannya. Segera aku mengunjungi letak display pensil mekanik, banyak bentuk dan bermacam-macam harganya. Ada yang dominan warna merah, biru, hijau, ungu, hitam dan bening. Dari kisaran harga lima ribuan hingga dua puluhan ribu. Sempat bingung memilihnya, hingga akhirnya aku putuskan untuk mengambil pensil yang berwarna merah sesuai warna kesukaanku. Setelah transaksi di kasir selesai, akhirnya aku beranjak untuk pulang ke rumah.
Sembari jalan aku sempat memikirkan untuk membelikan istriku air kelapa hijau yang ia inginkan tadi pagi, akhirnya aku mampir di sebuah warung penyedia kelapa hijau. Tak begitu lama pesananku pun jadi dan segera ku bawa pulang. Setibanya di rumah, ayah mertuaku kaget karena aku begitu cepat kembalinya sedari pasar.

3 komentar: