Minggu, 07 Januari 2018

PESTA SANA SINI

Ahad pekan kedua di tahun 2018. Banyak yang memiliki impian ini dan itu, mulai dari hal yang sederhana sampai dengan hal yang luar biasa. Tetapi yang namanya impian tidak ada indikator atau batasan khusunya, karena setiap orang yang memiliki impian punya segudang indikator untuk memaknainya. Mereka menganggap luar biasa, tapi ada orang-orang tertentu yang menganggapnya biasa-biasa saja. Semua tergantung dari penilaian dan pandangan si pemilik impian tersebut. Toh belum tentu apa yang kita lihat itu buruk, baginya sesuatu hal yang baik, begitupun sebaliknya.

Pekan kedua ini, aku dan istri menghabiskan liburan di rumah ibu dan ayah istri. Hampir setiap pekan kami pulang ke matraman, sembari bersilahturahmi juga melepas penat dari kerjaan. Ahad kali ini banyak yang mengadakan hajatan di sekitar rumah mertua, ada yang nikahan ada juga yang sunatan, terhitung ada 5 surat hajatan yang bertandang ke rumah mertua dari hari sabtu hingga ahad ini. Bisa ku katakan jadwal terpadat buat mertuaku.

Pagi hari sekitar jam 7 pagi, ibu mertua sudah ikut rombangan pengantar mempelai pria menuju tempat hajatan pertama dalam surat undangan yang datang ke rumah. Sedangkan ayah mertua tetap di rumah sembari melaksanakan tugas dan pekerjaannya sebagai penjahit. Selepas pulang dari mengantar mempelai pria, ibu mertua tiba di rumah sekitar jam 11 siang. Lalu selepas dhuzur beliau mesti menghadiri dua hajatan dalam waktu yang bersamaan. Alhasil, satu hajatan di mintanya untuk aku dan istri yang mendatangi, ibarat menghormati orang yang telah mengundang. Pesannya ibu mertua "nanti datang ke gedung meunasah aceh ya, bilang sama pak maman, ibu gak bisa datang, kami yang wakili, ini amplopnya juga jangan sampai lupa". Yang kami balas dengan tanda ok. "itu hajatan khitanan ya, jangan sampai lupa" kata beliau melanjutkan. "siap" segera kujawab.

Selepas siap-siap, akhirnya aku dan istri menuju tempat hajatan. Namun betapa kagetnya kami ternyata di gedung tersebut bukan pesta khitanan melainkan pernikahan. Kami bimbang apakah lanjut atau mesti keluar, padahal kami udah di depan penerima tamu. Aku dan istri saling berpandangan, dalam hati kami seolah memiliki kontak batin yang kuat, "bukannya khitanan ya di sini, kok ini pernikahan ya? ". Akhirnya istriku memberanikan diri untuk bertanya kepada penerima tamu takutnya kami berdua salah masuk ke hajatan orang lain. Dan ternyata benar, ini tak salah, informasi dari rumah yang mungkin keliru karena banyaknya undangan hajatan yang datang. Sembari kami menyantap hidangan pesta pernikahan, kami berdua saling merasa lucu dengan kejadian hari ini. Mana jadwal mertua yang padat, setelah ashar, ayah dan ibu akan menghadiri hajatan tetangga, ngunduh mantu lebih tepatnya. Betul-betul jadwal padat hehehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar