Senin, 08 Januari 2018

TANGISAN DI UKS SEKOLAH

I love monday. Begitulah sebagian besar orang mengatakan, tapi bagi sebagian orang yang lainnya menganggap "i hate monday". Itulah ungkapan-ungkapan yang banyak terdengar di awal hari kerja pada pekan ini. Kalau yang mengatakan love monday maka ia yang selalu mengambil hikmah dalam setiap apa yang ia lakukan, dan sebaliknya jika ia mengatakan hate monday, maka ada kenangan yang tak ia sukai terjadi di hari ini.

Aku di hari ini bisa dikatakan tengah-tengah lah, middle monday, istilahku seadanya saja. Pagi-pagi di antar oleh istri, sambil menjalankan sunah Rasulullah, sehabis subuh usahakan beraktivitas ringan agar tak tidur kembali. Nah ini yang membuatku senang, walaupun imbas dari kesenangan pasti kesedihan, ya bisalah dikatakan seperti itu, saat aku di kereta, ngantuk yang sangat melanda diriku, akupun memejamkan mata, namun karena memang lagi ngantuk, bangunnya kepagian, akhirnya aku terlewat dari stasiun pemberhentian terakhirku yang seharusnya di stasiun depok malah ini aku kebablasan hingga ke stasiun citayam. Tak begitu jauh sih sebenarnya, namun untuk berbalik arah menuju stasiun depok yang membuatku berpikir dua kali, apalagi hari ini aku membawa laptop. Pasalnya, penumpang arah manggarai terbiasa dengan desak-desakan dan terhimpit layaknya ikan asin yang lagi di jemur, sungguh pemandangan yang membuatku tak bisa untuk melanjutkan ke stasiun depok menggunakan jasa kereta kembali. Melihatnya berimpitan dan dorong-dorongan, akhirnya ku urungkan niatku dan mengganti dengan menggunakan jasa ojek online. Ya walaupun mesti bayar dua kali lipat, tapi setidaknya aku aman dalam kendaraan ini ketimbang mesti impit-impitan dalam kereta.

Di sekolah, hari ini jadwalku, padat banget, dari pagi hingga sore hari bergelut dengan siswa, yang seharusnya mengajar hari ini hanya 4 jam ini malah di tambah hingga 6 jam, karena adanya persiapan khotmil quran di akhir pekan ini dan aku di amanahin sebagai tim acara. Satu persatu kegiatan ku lakukan, hingga sore pun menjelang. Saatnya giliran kelas 6 yang akan di imunisasi oleh pihak UkS untuk suntik difteri. Namanya juga anak-anak, ada yang senang, ada yang biasa-biasa aja dan ada juga dengan menangis sejadi-jadinya.

Sama seperti sebelumnya, siswaku satu ini menjadi orang yang terakhir untuk di suntik, Reihan namanya, siswa kelas 6 Quds yang jika belajar di kelas terkenal dengan siswa yang paling aktif, namun ketika berhadapan dengan jarum suntik dia malah mundur tanpa berita. Hehehehe

Aku gak tau kronologinya bagaimana, yang jelas ia amat sangat trauma sepertinya, nangis dan memberontak semau jidatnya. Namun, aku coba melakukan pendekatan sederhana, menenangkannya, menemani dan memberi motivasi. Awalnya manjut, namun ia masih ketakutan, kucoba untuk membujuknya sambil menyuruhnya membaca surah alquran yang ia hapal, biar tenang. Dan Alhamdulillah nya berhasil ya walaupun penuh perjuangan.

Dari pagi hingga kejadian Reihan, UKS di sibukkan dengan jadwal siswa bergantian suntik difteri, sebuah penyakit yang telah menjadi kejadian luar biasa bagi pemerintah Indonesia, sudah banyak korban yang meninggal dan masih di rawat di Rumah Sakit. Setiap siswa yang ku temui, ada yang merasakan krem sebagai efek samping dari suntikan ada juga yang berbangga diri menunjukkan bahwa ia telah kebal terhadap penyakit, ada juga yang stay cool, tak terjadi apa-apa. Ya namanya juga anak-anak, banyak tingkah dan serba ingin tau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar