Senin, 23 Februari 2015

MY BOOK



28 Januari 2015
Hari yang begitu menyenangkan sepertinya untuk edisi kali ini. Sebab aku dan aku Heri akan berkunjung ke beberapa tempat untuk mengantarkan surat audiensi. “bakalan banyak tempat baru yang akan aku sambangi” pikirku dalam hati.
Sekitar pukul 08.00 lewat kami berdua meminjam kendaraan dari pegawai di Dompet Dhuafa Banten ini, biasalah untuk sekedar menghemat waktu dan biaya perjalanan. “mas hari ini apa agendanya?” tanya kak Heri kepada pegawai tersebut, “tidak kemana-mana mas Heri, ada apa ya?” sambutnya menimpali pertanyaan kak Heri. Kak Heri melanjutkan “rencananya mau pinjam motor untuk antar surat, boleh gak pinjam motornya?” “oh iya boleh – boleh, tapi helmnya hanya ada satu nich, atau gini aja dech, tunggu karyawan yang lain datang untuk pinjam helmnya. Gimana?” lanjutnya. “oh iya mas, siip”. Kak Heri pun diberikan kunci kontak motor yang akan kami gunakan, dan ternyata tak lama kemudian karyawan yang lainnya tiba. Akhirnya kami pun meminjam helm. Tak lupa sebelum kami berangkat, aku meminta STNK dari motor yang akan kami gunakan. Berbekal dengan helm dan surat – surat kendaraan yang lengkap, kami pun akhirnya beranjak dari Dompet Dhuafa Banten yang menjadi tempat kami untuk menginap.
Motor merk Honda warna dominan hitam ini yang akan menemani kami hari ini dan tak patut kemungkinan kami akan menggunakannya lagi di lain waktu. Sasaran pertama kami yaitu menuju Radar Banten, tempat yang menjadi perjanjian kami dengan salah satu teman wartawan Uda Iwan, yang malam sebelumnya memberikan pin BBM untuk saling komunikasi lebih intens. Namanya Hilal Ahmad di sapa dengan nama Hilal, seorang redaktur yang mengedit tulisan yang bakalan di muat oleh koran keesokan harinya. Beliau masih muda dan sangat ramah. Ruangan kerjanya di lantai lima, kami naik menggunakan lift untuk bisa menuju ke ruangannya. Di sana kami ngobrol banyak mengenai Sekolah Guru Indonesia, dan setidaknya terjadilah wawancara ringan antara kami dan dia, kan dia seorang wartawan jadi wajarlah. Sampai akhirnya kami ingin beranjak untuk pergi, kami sempatkan untuk berfoto di depan Radar Banten dan bakalan di muat di koran esok harinya.
Setelah dari Radar banten, kami akhirnya berkunjung ke MAN 2 Kota Serang, sekedar untuk membangun jaringan terhadap pihak sekolah dan para pengurus OSIS di sekolah tersebut, dan juga berkunjung ke SMK Banten Jaya, dengan tujuan yang sama, yaitu membangun jaringan, alih – alih mungkin bisa saling bersinergi dengan beberapa program yang kami canangkan. Misalnya saja, untuk penggalangan dana dan donasi baju bekas layak pakai. Apalagi para siswa dan siswi yang ada di kota Serang ini, membentuk sebuah komunitas untuk menggerakkan pendidikan agar lebih baik lagi. Insya Allah bisa bersinergi dengan baik. Aamiin
Kelar di sekolah kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3 Banten) yang jaraknya lumayan jauh juga. Awalnya kami menuju ke Kementrian Agama, tak lama kami ada di kantor tersebut, karena hanya bisa mengirimkan surat, untuk perihal kegiatannya baru bisa di cek kembali di hari Jumat. Sama halnya dengan Kementrian Agama, di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten juga demikian, kami hanya bisa mengantar surat belum bisa follow up suratnya. Tak jauh beda dengan pengalaman kami di dua kantor pemerintah Banten tersebut, di kantor Gubernur pun demikian, kami malah di suruh ngecek suratnya di hari Senin depan, bakalan lama lagi kami di kota ini, pikirku dalam hati.
Selepas dari itu semua, akhirnya kami berencana untuk pulang dan mencari pengisi lambung, tapi sebelum itu kami berdua menyempatkan diri untuk shalat Dhuzur di Mesjid besar yang ada di depan kantor gubernur. Bukan main besarnya mesjid ini, megah dengan arsitektur yang sangat apik, sejuk, rindang banyak pohon dan yang pasti corak warnanya tak bosan untuk di pandang. Hanya saja selepas dari shalat, kami di mintai biaya parkir oleh petugas keamanan di situ, wajarlah karena mereka pun hanya menjalankan tugas dan hitung – hitung sebagai jasa mereka telah mengamankan kendaraan kami.
Lambung telah terisi, motor pun kami isi, akhirnya kami pulang kembali ke kantor Dompet Dhuafa Banten. Tapi tak lama kemudian kami pun berangkat lagi ke suatu tempat yang antah berantah, tapi ujung – ujungnya kami bercengkrama di mesjid yang ada tidak jauh dari kantor tersebut. Lama kami di sana hingga akhirnya sore pun menyapa kami dan mengharuskan kami untuk segera kembali.
Tiba di kantor, aku melihat kiriman buku yang di pesan kemaren tiba, kiriman yang terbungkus rapi dengan corak warna coklat khas dari sebuah kiriman terpampang di atas meja resepsionis kantor. Aku pun menghampirinya dan segera aku membukanya, penasaran seperti apa rupa buku yang direkomendasikan oleh mba Ulfa Wardani kepadaku beberapa hari yang lalu. Ketika aku buka, sampul bukunya keren, dengan corak warna dominan merah dan bertuliskan “Baarakallaahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta”. Buku yang sangat pantas di berikan kepada pengantin baru sebagai kado pernikahan.
Ketika membuka bukunya, akupun membacanya dengan seksama, banyak yang aku bisa ambil pelajaran di dalamnya, walaupun masih sedikit lembaran yang aku baca tapi cukuplah memberiku gambaran mengenai isi secara keseluruhan buku tersebut. Intinya buku ini sangat baik sesuai dengan rekomendasi dari mba Ulfa mengenai buku ini. Tapi sayang seribu kali sayang, ini masih jauh dari harapanku, aku sebaiknya belum bisa membacanya karena aku belum menikah, tapi satu hal yang aku ambil pelajarannya, yaitu cara aku untuk mempersiapkan diri menuju jenjang tersebut. Semoga di mudahkan dalam setiap niatan baik kita menjemput Ridho Sang Ilahi. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar