Minggu, 08 Februari 2015

MENIKMATI KOTA SERANG



27 Januari 2015
Pagi pertama dikota Serang Provinsi Banten. Provinsi yang dipimpin oleh “si doel” anak betawai yaitu Rano Karno, beliau merupakan pelaksana tugas dari gubernur sebelumnya, beliau awalnya merupakan wakil gubernur Banten, karena gubernur Banten memiliki permasalahan, makanya ia langsung naik tahta menjadi seorang gubernur, kayak kisah – kisah jaman dulu aja yach, naik tahta segalanya. Hihihi....
Pagi yang berbeda pula yang kurasakan di kantor Dompet Dhuafa Banten yang notabene merupakan kantor cabang dari Dompet Dhuafa pusat yang berada di Ciputat provinsi yang sama, yaitu di provinsi Banten. Aku dan kak Heri, pagi – pagi sudah membahas masalah pernikahan, berhubung aku membaca sebuah postingan dalam versi bahasa Inggris di sebuah media sosial-instagram, sontak aja aku memberitaukan pada kak Heri, “ kak Heri ini liat sebentar, bagus loch” kak Heri pun mendekat, sambil menunjuk di layar handphone saya, aku pun berkata “kak Heri ini, maksudnya ada percakapan antara pria dan wanita yang sedang terkena virus merah jambu,
Pria     : taukah kamu dimana nanti aku akan menciummu
Wanita :bibir?
Pria     : tidak
Wanita : pipi?
Pria     : tidak
Wanita : leher?
Pria     : bukan
Wanita : lalu dimana?
Pria     : di mesjid di depan seluruh keluargamu dan mereka mengatakan‘SAH’.
Itulah percakapanku dengan kak Heri di pagi hari, percakapan yang selalu membuat siapa saja akan merasa tertarik untuk membahasnya, apalagi kami di Sekolah Guru Indonesia di haruskan untuk tidak menikah dahulu sebelum proses penempatan selesai.
Agenda hari ini, kami-Tim JUST FUN-Pandeglang, ingin berkunjung ke Radio Republik Indonesia, sebagai salah satu bentuk kerjasama kami dengan para jaringan dan mitra yang akan menunjang kegiatan kami selama di penempatan dan sebagai bentuk pesan terhadap pak Parni Hadi yang berpesan agar kami bisa berkunjung ke RRI.
Sambutan hangat dari ibu Asih, awalnya tak begitu baik, informasi yang kami bangun sedikit melenceng dari harapan. Beliau nanggapinya berbeda seperti ada miskomunikasi, ya seperti itulah adanya, kami belum selesai menjelaskan, ia langsung memotong dan mengiyakan semua yang kami ingin lakukan. Hingga akhirnya, hampir diakhir pembicaraan kami, setelah di jelaskan oleh kami secara runtut dan sistematis, akhirnya beliau pun paham dengan maksud kami. Dan beliau sangat welcome dengan hal yang seperti ini, kami bahkan di minta untuk atur jadwal kegiatan kami di RRI kedepannya.
Setelah dari RRI kami pun tiba – tiba secara mendadak langsung menuju ke UNBAJA atau Universitas Banten Jaya, berhubung SGI angkatan 5 yang terdahulu, telah membangun jaingan dengan seorang dosen dari universitas tersebut, hanya saja belum sampai pada tahap pembahasan program kerjasama, makanya kami ingin melanjutkan hubungan baik tersebut. Setibanya di sana, beliau tak ada ditempat, nomor yang kami dapatkan pun tak bisa bicara banyak. Sekalian ada di daerah sana kami pun sepakat untuk berkunjung menemui ketua BEM universitasnya sekedar silahturahmi saja, bukan hanya itu, kami pun sempatkan untuk membangun silahturahmi dengan ketua OSIS SMK Banten Baja yang berada satu lokasi dengan UNBAJA itu sendiri. Dan dari perbincangan dengan ketua OSIS, Uswatun Khasanah, kami mendapatkan informasi bahwa di Banten itu sendiri ada perkumpulan komunitas Istana Belajar Anak Banten, yang notabene hampir mirip dengan kami yaitu mengajar di daerah pelosok, hanya saja mereka masih tingkat SMA/MA/SMK yang berada di sekitaran kota Serang, kegiatannya pun dilakukan rutin tiap pekan dan di akhir bulan barulah mereka berkunjung ke daerah pelosok untuk saling berbagi ilmu dan juga pengalaman.
Sore kami baru pulang dari perjalanan kesana kemari, hingga kami pun semua berpisah kembali, aku dan kak Heri kembali ke kantor Dompet Dhuafa Banten, sedangkan mba Ulfa, mba Sasni, mba Anti dan mba Nur melanjutkan ke arah asrama relawan yang mereka tumpangi untuk menginap.
Setibanya kami di kantor, kami berdua berjumpa dengan pak Hasan, salah seorang pembina untuk cabang Banten. Kami pun mengobrol dengan beliau sekedar cekakak cekikik. Hingga akhirnya menjelang maghrib barulah semua beranjak untuk pulang, kecuali uda Iwan yang menemani kami hingga menjelang isya, sampai makanpun kami berdua dengan kak Heri di traktir untuk malam ini, karena dia bangga bisa menjadi bagian dari kisah perjalanan kami para relawan pendidikan dari Sekolah Guru Indonesia. Dia pun masih muda, tak jauh beda dengan kami, ia pun pernah mencoba untuk mengikuti program tersebut, hanya saja tak bisa lulus, mungkin belum rejekinya atau bahkan Allah SWT memberikannya rejeki di tempat lain, karena untuk bermanfaat bagi orang lain tak hanya di satu tempat, bahkan banyak sekali pintu – pintu rahmat dari Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar