Rabu, 28 Januari 2015

THE FIRST MEET



19 Januari 2015
I Love Monday, inilah sloganku hari ini. Hari pertamaku di kampung Sodong Gantung Desa Kutakarang Kecamatan Cibitung Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten Negara Indonesia Asia Tenggara benua Asia Bumi Galaksi Bima Sakti Angkasa Raya.
Hari pertama yang selalu membuatku deg – deg an dalam keadaan apapun, bahkan setiap orang pun pasti merasakan hal yang sama. Ada pepatah mengatakan “kesan pertama sangat menentukan dan berkesan”. Hal ini yang selalu mengingatkanku ketika akan melalui skenario ini. Baik atau buruknya hari – hari kedepanku di tentukan saat jumpa pertama.
Hari ini aku akan ke sekolah, bertemu dengan para guru – guru hebat dan bertemu dengan para siswa – siswi berbakat yang akan melukis wajah Indonesia kedepannya. Sempat terbersit di benakku, khawatir jika nanti aku akan memberikan kesan buruk di awal jumpa. Semua persiapan telah aku lakukan, hingga sepatu butut ku pun telah aku siapkan di depan rumah, walau pun sebetulnya sepatu ku ini tak layak digunakan di medan yang seperti ini, jalanan yang becek dan berbatu bukan menjadi gaya di jalur sepatu ku ini, yang telah menemaniku selama 5 bulan terakhir.
Kelas pertama aku masuk, di kelas 6, dengan jumlah siswa yang tak begitu banyak, masih bisa ku hitung dengan jari tangan dan kakiku, genap berjumlah 20 orang, terdiri dari 13 orang laki – laki dan 7 orang perempuan. Keliatan mereka sangat malu dan segan terhadap orang baru, seperti saya ini. Orang asing di mata mereka. Aku pun mencoba untuk mencairkan suasana, dengan memberikan salam pembuka berulang – ulang agar mereka bisa terbiasa dengan gaya dan intonasi yang aku berikan, kadang keras kadang pula lembut, tapi telah aku tekankan agar mereka tetap semangat dalam melakukan apapun.
Aku memperkenalkan diri kepada mereka, seperti biasa, “nama bapak itu panjang, tak mungkin kalian ingat saat ini, nama lengkap bapak adalah Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo, kalian bisa panggil bapak Sapto saja, tak usah panjang – panjang. Saya berasal dari kota Kendari, Sulawesi Tenggara, jauh dari pulau Jawa. Ada yang tau gak dimana itu pulau Sulawesi?”. Karena tak ada peta Indonesia di kelas tersebut, sehingga aku mengibaratkan dengan peraga dari tanganku, membentuk huruf “K” dengan mengangkat jari telunjuk, jari tengah dan jempol, untuk menganalogikan pulau Sulawesi. Mereka pun keliatan sangat antusias melihat aku memeragakan pulau sebagai jari tangan ku. Aku bahagia melihat mereka, senyum mereka merekah dalam raut wajah generasi masa depan negeriku ini.
Aku merasa berdosa ketika aku menceritakan kisah hidupku belum bisa seperti saat ini, diantara mereka ada yang mengeluarkan air mata, mungkin teringat dengan ayahnya, karena saat itu, aku mengucapkan bahwa ayahku pun telah tiada, anak itu bernama Atang, cita – citanya sungguh mulia, ingin menjadi seorang kiai yang tersohor di desanya, semoga engkau tetap istiqomah dengan cita – citamu. Aamiin.
Kelar dari kelas 6, aku pun mulai berinteraksi dengan para guru di ruang guru, bertemu dan bercengkrama dengan pak Tuhri, pak Aneng, Pak Umar, pak Sanusi, bu Aneng, bu Iin dan pak Ajum. Bahas asal aku dari mana, latar belakang aku yang seperti apa dan sebagainya, layaknya seorang polisi yang sedang mengintrogasi seorang penjahat di ruang kantor kepolisian, cuman senangnya, aku bukanlah seorang penjahat, hanya seorang relawan pedidikan dengan niat yang banyak, tulus dan ikhlas.
Tepat pukul 12.00 tengah hari, bel panjang berbunyi, tanda bahwa pelajaran di sekolah telah usai, siswa – siswi pada berlarian untuk bergegas pulang ke rumah mereka. Aku dan para guru di sekolah ini pun segera untuk pulang ke rumah. Siang ini aku tak pergi kemana – mana, kata pak Ajum, ia menyarankan agar aku istirahat dahulu, besok baru pergi untuk melakukan kunjungan ke beberapa tokoh masyarakat.
Hari ini aku bisa merasakan tidur siang dengan nyenyak, sudah lama rasanya aku tak merasakannya, nyaman, tentram dan terasa damai aku tidur kali ini. Sungguh masa – masa indah pikirku. Tapi tak lama aku tidur, aku sadar diri dengan keadaan ku saat ini, aku tinggal dengan seorang guru yang baru saja aku kenal, belum cukup 24 jam lamanya, tapi beliau begitu baik padaku, aku bersyukur di perjumpakan padanya, sungguh rejeki yang tak ketulungan, semoga Allah membalas segala kebaikannya.
Malam hari aku mulai asyik bercerita dengannya, di tambah lagi aku bisa bercerita dengan seorang guru senior bernama pak Sapri, beliau guru baru juga di sekolah tersebut, tapi lebih tepatnya beliau kembali lagi, berhubung belasan tahun silam, beliau adalah guru di SD ini dan sekarang balik lagi di tugaskan di sekolah ini, terasa seperti nostalgia saja. Dan ternyata, pak Ajum merupakan salah satu murid dari pak Sapri, sekarang menjadi rekan guru yang sama – sama mengajar untuk generasi selanjutnya yang akan memimpin bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Kami berbincang mengenai banyak hal, mulai dari pendidikan, politik hingga masalah cinta. Dan menariknya, setiap membahasa masalah yang satu ini, selalu asyik dan nyaman. Sungguh cinta itu baik adanya, apalagi di barengi dengan cinta kita kepada sang pencipta, Allah Wa Jalla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar