Kamis, 29 Januari 2015

MATEMATIKA vs BAHASA INGGRIS



20 Januari 2015
Ilmu hitung dan bahasa asing menjadi salah satu momok di hampir seluruh tingkatan sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dari sabang hingga merauke, dari utara hingga selatan Indonesia. Keadaan ini memang menjadi salah satu kesulitan dalam meningkatkan kualitas pendidikan terutama di Indonesia. Terkadang beberapa mereka yang pandai dalam ilmu hitung tak bisa dalam memahami bahasa asing, begitu pun sebaliknya, paham bahasa asing tapi tak paham ilmu hitung. Hal ini layaknya sudah menjadi rumus tetap dalam kehidupan para pelajar. Walau pun tak sedikit juga yang bisa memahami ilmu hitung dan bahasa asing tersebut.
Kejadian ini serasa menjadi bayang – bayang bagi para siswa di SDN Kutakarang 1, sekolah yang terletak di Kampung Sodong Gantung Desa Kutakarang Kecamatan Cibitung Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten ini memiliki masalah terkait dengan bahasa Inggris, bahasa yang menurut mereka adalah bahasa yang aneh, dimana lain tulisan lain bacaan lain pula artinya, sungguh bahasa yang aneh. Tapi hal ini tidak seperti yang biasa orang lain pikirkan. Siswa di sini memiliki kelebihan dari segi ilmu hitung, ya seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa, jika paham dengan ilmu hitung maka lemah dari segi bahasa asing, begitu pun sebaliknya. Hal ini sesuai dengan teori yang ada, bahwasanya setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai dengan takarannya masing – masing.
Hari ini aku memasuki kelas 5, sekedar untuk perkenalan saja, kemarin kelas 6, kini giliran kelas 5. Agak kikuk sich, ketika ingin masuk ke dalam kelas untuk pertama kalinya. Walaupun demikian aku tetap semangat menjalaninya. Ketika masuk pertama kali di kelas ini, aku telah mendapatkan sedikit informasi mengenai kondisi para siswanya, walau pun tak 100%, tapi minimal aku telah memiliki gambarannya.
Jumlah kelas 5 berbeda dengan jumlah kelas 6, kelas 5 lebih banyak dibandingkan kelas 6, keseluruhannya adalah 29 orang. Ketika aku menyuruh untuk memperkenalkan dirinya, mereka sedikit malu – malu dan agak takut. Tapi dengan sedikit motivasi dan semangat yang aku coba beri kepada mereka, akhirnya mereka mau untuk mempekenalkan diri. Aku pun memberitau mereka untuk memperkenalkan diri dengan cara menyampaikan nama lengkap, nama panggilan, hobi, cita – cita, mata pelajaran yang di sukai dan mata pelajaran yang di anggap susah/sulit.
“Perkenalkan nama aku, Sainta, dipanggil Inta, hobi bermain volly, cita – cita jadi guru....” aku pun langsung mengaminkan cita – cita dari Inta tersebut, dan memberitaukan kepada seluruh siswa untuk mengaminkan setiap cita – cita temannya yang di ucapkannya. Inta mengulangi lagi cita – citanya, “cita – cita menjadi guru”.”Aamiin” teriak teman – temannya yang lain. “mata pelajaran yang saya sukai adalah Matematika dan mata pelajaran yang saya anggap susah adalah bahasa Inggris” ucap Inta selesai memperkenalkan dirinya. Aku pun langsung memberikan aba – aba untuk memberikan tepuk jempol kepada Inta. “tepuk jempol” teriakku memberikan aba – aba, “praaakkk praaakkk praaakkkk (suara tepukan tangan) jempol praaakkkk praaakkkk jempol praaakkkk praaakkkk baguuusss” begitulah aku memberikan semangat buat para siswa – siswa hebat, anak generasi sunda kebanggaan bangsa Indonesia.
Hari ini aku bertemu dengan kepala sekolah untuk kedua kalinya, dengan kondisi dan situasi yang tentunya berbeda dari pertemuanku yang pertama. Banyak hal yang kami perbincangkan dengan kepala sekolah, Pak Dudu, aku memanggilnya, mulai dari masalah sekolah hingga masalah politik bangsa ini. Hingga siang hari, aku dan seluruh guru di sekolah ini mengikuti rapat bulanan yang langsung di pimpin oleh kepala sekolah sendiri. Banyak agenda yang dibicarakan dalam rapat bulanan sekolah, diantaranya adalah mengenai kehadiran diriku, guru bantu baru dari Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa. Aku pun diminta untuk memperkenalkan diri secara resmi di depan para guru dan kepala sekolah tentunya. Selesai rapat bulanan, akhirnya kami pulang ke rumah masing – masing.
Banyak hal yang aku pelajari dari para masyarakat di daerah ini, mulai dari tutur bahasanya hingga dari prilakunya dalam menyambut warga baru. Setelah dari sekolah, aku ditemani oleh pak Ajum berangkat ke rumah pak lurah untuk sekedar silahturahmi. Tapi sayangnya aku tak berjumpa dengan beliau. Hingga kami putuskan untuk berkunjung ke rumah pak komite. Belakangan aku tau namanya adalah pak Janur. Tak begitu lama kami di rumah pak komite, kemudian kami lanjutkan ke kampung rolah badak. Di sana aku bertemu dengan pak RT yang bernama Pak Maria dan bercengkrama dengan Bu Oom, ibu dari siswa, Kokom Komalasari, seorang ketua kelas 6. Hingga aku dan pak Ajum bertemu dengan pak Sapri yang baru saja berkunjung dari rumah mertuanya di kampung tersebut. Akhirnya kami pulang bersamaan, kembali lagi ke kampung Sodong Gantung, tempat kediaman Pak Ajum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar