Jumat, 30 Januari 2015

PRO DAN KONTRA



23 Januari 2015
Era blusukan mulai santer terdengar di telinga bangsa ini, pemicunya adalah ketika pemilihan presiden mulai digambangkan. Kunjungan dari “orang atas” ke “orang bawah” mulai banyak dilakukan, entah itu murni silahturahmi ataukah hanya sekedar pencitraan belaka. Dari alasan yang sederhana hingga alasan yang sangat kompleks. Pintu ke pintu rumah, kios pedagang kaki lima, jalanan rusak hingga gorong – gorong parit yang kecil pun tak luput dari area blusukan para pemimpin bangsa ini. Dan semua itu kembali kepada yang punya niat atas apa yang ia lakukan.
Hari ini, kami berenam mulai melakukan kunjungan kepada pihak – pihak yang bakalan akan membantu kami dalam mewujudkan program tim selama di penempatan. Kunjungan kami hanya sebatas silahturahmi belaka, dan tak memiliki niatan yang lain. Tempat pertama, kami berkunjung ke POLRES kabupaten Pandeglang, maunya sich, ketemu dengan pangkat tertinggi di kesatuan polri di kabupaten ini, tapi kami kurang beruntung, kami hanya bertemu dengan Kepala Satuan Binaan Masyarkat atau biasa di singkat dengan nama Kasat Binmas, yaitu bapak Satir. Beliau begitu antusias mendengarkan penjelasan dari ketua tim kami, saudara Heri.
Banyak hal yang kami sharing kan dengan pak Satir tersebut, mulai dari kondisi wilayah tempat kami mengabdi, hingga menanyakan lokasi media lokal dan radio lokal yang bisa kami kunjungi. Tempat kedua, kami mulai dengan dinas kesehatan kabupaten yang bersebelahan gedung dengan polres kabupaten. Sesuai dengan arahan yang kami peroleh dari pak Yudi kemaren, kami pun langsung menuju ke bagian Pelayanan Kesehatan Umum. Tapi kembali lagi kami kurang beruntung, kami tak bisa menemui seluruh kepala bagian di dinas kesehatan tersebut, sebab para petinggi bagian pada pergi ke pemerintah daerah untuk mengikuti agenda bersama bupati Pandeglang. Berasa plan A gagal, tapi kami masih punya harapan dengan plan B. Kami pun di arahkan untuk ke bagian umum dan kepegawaian, dan kami pun di sambut hangat oleh bapak Supriadi. Cerita punya cerita, ternyata beliau tinggal sehari lagi di kantor dinas kesehatan ini. Ya, walaupun tinggal sehari, kami pun sempatkan untuk mengobrol dengan beliau. Ya sekedar untuk menjalin ukhuwah dan silahturahmi kepada banyak orang, siapa pun ia.
Setelah shalat Jumat, kami sepakat untuk mengunjungi radio lokal yang ada di kabupaten Pandeglang. Kak Heri, Mba Ulfa, Mba Sasni, Mba Nur, Mba Anti dan aku, jalan beriringan di bawah langit Pandeglang. Tujuan kami adalah radio Paranti, salah satu radio anak muda di Pandeglang. Terbukti dengan sambutan hangat mereka ketika berjumpa dengan kami di studionya. Kak Heri dan Mba Sasni yang amsuk ke ruangan direktur radio tersebut, dan sisanya, kami menunggu di ruang tunggu. Lama juga kami menunggu dua teman kami tersebut. Mereka sedang berjuang untuk memberikan penjelasan kepada para penyiar tersebut mengenai Sekolah Guru Indonesia. Setelah selesai dari Radio Paranti, akhirnya kami sepakat untuk mengunjungi Radio Berkah yang berada di pendopo kabupaten. Belakangan baru aku tau bahwa tempat radio tersebut adalah rumah dinas dari bupati Pandeglang itu sendiri.
Radio Berkah merupakan radio milik pemerintah yang fungsinya untuk menyiarkan segala bentuk kegiatan pemerintahan ataupun untuk mempublikasikan agenda – agenda, sosialisasi program, komunitas dan hal – hal yang mengenai kabupaten.
Kondisi di Radio Berkah dan Radio Paranti, jauh berbeda. Dari segi penyambutan saja berbeda, apalagi dari segi responnya. Mungkin karena milik pemerintah kali ya. Tapi begitulah birokrasi pemerintahan, sedikit ribet dan alurnya panjang jika berurusan, mesti sabar dan ikhlas.
Tak terasa langit mulai gelap, mega langit mulai nampak di ujung pandangan. Kami pun berniat untuk pulang, tapi sebelumnya kami mampir ke pasar, sekedar untuk berbelanja kebutuhan pribadi kami masing – masing. Setelah dari pasar, kami berharap mendapatkan tumpangan gratis seperti waktu kami berangkat tadi, naik mobil dengan bak terbuka kawan, sungguh indah. Tapi harapan hanya tinggal harapan, banyak mobil dengan bak terbuka dan tak ada muatannya, hanya kami bisa lihat lalu lalang di hadapan kami, tak mampu kami membuatnya berhenti, hingga akhirnya kami pun menyerah dan segera naik angkutan umum jurusan lokasi tempat kami menginap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar