Senin, 26 Januari 2015

PENDAHULUAN


Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo itu adalah namaku, nama pemberian dari orang tua ku sekitar 23 tahun silam. Aku dibesarkan dari keluarga yang sederhana dan tak begitu memiliki kekayaan yang lebih. Hidupku yang sederhana telah membawaku hingga jauh dari kampung halamanku sendiri dan juga kampung halaman orang tuaku. Aku merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara, keluarga yang cukup besar untuk jaman sekarang. Sebab, orang jaman dulu masih beranggapan bahwa banyak anak, banyak rejeki.
Orang-orang disekitarku memiliki persepsi sendiri mengenai diriku, terutama soal nama sapaan, maklum namaku yang begitu panjang menjadi ciri khasku, susah di ingat pasti, dan bingung untuk memanggil yang mana. Kadang aku pun bingung mau memperkenalkan diri seperti apa, ketika mereka menanyakan namaku. Kadang hanya sebut Sapto saja, malah mereka terkadang menanyakan, “Apa hanya itu ya nama kamu?”. Tapi inilah aku, dengan nama yang begitu panjang telah memberikan suasana baru ketika berkenalan dengan banyak orang, walaupun mereka yang mengenalku, awalnya tak pernah bisa ingat benar namaku yang seperti rel kereta api panjangnya, tapi satu hal yang mereka bisa mengerti bahwa, mereka telah mengenal seseorang yang memiliki nama panjang hingga menggunakan lima kata dalam namanya.
Sampai saat ini, aku masih merasa baik-baik saja dengan kondisi namaku. Hingga akhirnya aku bertemu dan berjibaku dengan orang-orang hebat dari seluruh Indonesia, hasil dari perekrutan Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa (SGI – DD). Aku dan 29 orang lainnya yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia memiliki niatan yang sama untuk membangun Indonesia melalui dunia pendidikan. Saudara – saudari seperjuanganku ini ada yang berasal dari Medan – Sumatera Utara, Padang – Sumatera Barat, Riau – Riau, Pekanbaru – Jambi, Bandar Lampung – Lampung, Jakarta – DKI Jakarta, Tasikmalaya dan Garut – Jawa Barat, Serang – Banten, Wonosobo, Boyolali, Klaten, Cilacap dan Purwokerto – Jawa Tengah, Sampit – Kalimantan Tengah, Lombok dan Sumbawa – Nusa Tenggara Barat, Pare-pare dan Makassar – Sulawesi Selatan dan yang terakhir adalah Kendari – Sulawesi Tenggara, tempatku berasal.
Aku dan 29 temanku yang lainnya, datang di kota hujan, Bogor – Jawa Barat, untuk menjalani masa pembinaan dan pendidikan untuk menjadi sosok guru yang memiliki karakter 3P selama 5 bulan, dari bulan Agustus 2014 hingga bulan Januari 2015.Pembinaan yang kami jalani, yaitu dari kuliah mengenai materi kependidikan dengan dosen – dosen yang memiliki kapabilitas disiplin ilmu yang profesional selama 2 bulan, magang di sekolah dasar sekitar markas SGI – DD selama 2 bulan, kegiatan pemberdayaan masyarakat SGI Help And caRE (SHARE) di Kabupaten Tasikmalaya – Jawa Barat selama 28 hari dan terakhir adalah proses penempatan di daerah terpencil selama setahun.
Hingga kini, aku dan yang lainnya memasuki babak baru dalam sejarah kehidupan kami masing – masing dengan banyak menorehkan goresan makna untuk hari ini dan hari selanjutnya. Sebab, kami sekarang berada dalam drama penempatan yang kami inginkan selama ini. Drama kali ini begitu unik dan seru untuk aku ceritakan.Kami dibagi menjadi tim – tim kecil berisikan 6 orang untuk siap melebarkan sayap di 5 daerah penempatan di Indonesia, Kabupaten Pandeglang – Banten, Kabupaten Kubu Raya – Kalimantan Barat, Kabupaten Nunukan – Kalimantan Utara, Kabupaten Sumbawa Barat – Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Wakatobi – Sulawesi Tenggara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar