Rabu, 28 Januari 2015

START AWAL DI NEGERI BADAK Bagian 2




18 Januari 2015
Pagi ini berbeda dengan pagi sebelumnya, pagi indah di penginapan Karunia memberikan nuansa baru dalam perjalanan menuju daerah penempatan. Hari ketiga dalam perjalanan membawa para relawan guru muda di daerah pelosok menjadi agenda baru bagi Instruktur Manajemen Muda Saudari Heni Damanik, asal Medan – Sumatera Utara.
Seperti biasa, kami bersiap untuk berangkat mengantar kak Heri dan diriku, hanya saja, hari ini sedikit berbeda dari sebelumnya, pagi ini ada sesuatu yang berbeda, ada hikmah dibalik semua kegiatan kita. Pagi ini kami berenam berbincang – bincang dengan para anggota TNI-AD yang Insya Allah akan membantu kami selama di penempatan, sungguh perbincangan yang menarik pagi ini. Setiap niatan baik pasti ada orang baik yang selalu datang untuk memberi pertolongan.
Setelah berbincang dengan para anggota militer tadi, kami melanjutkan lagi perjalanan menuju lokasi kak Heri. Jauh rasanya perjalanannya, hingga kami di haruskan untuk mendorong mobil Suzuki APV yang dipiloti oleh pak Neming. Lumayan susah juga mendorong mobil, berat rasanya tapi inilah kenyataan kawan selalu ada suka maupun duka. Hingga akhirnya, kak Heri pun di jemput untuk ke daerahnya, karena mobil tak bisa masuk hingga ke daerahnya. Tapi ada hal yang unik kali ini kawan, kami ketemu dengan anggota dewan untuk tingkat kabupaten Pandeglang dan tingkat Provinsi. Belakangan kami tau bahwa mereka bernama Agus Lukman dan para pengawalnya untuk melaksanakan pertemuan dengan para tokoh masyarkat di kecamatan Cibitung. Sungguh ngobrol yang baik. Tetap ingat, ada himah di balik semua yang kami lakukan. Insya Allah tetap Istiqomah di jalan-Nya. Aaminn
Setelah mereka pergi ke tempat mereka tuju, tak lama kemudian kak Heri pun berangkat bersama dengan penjemputnya dan kak Heni pun mengikuti kak Heri, sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai manajemen baru Sekolah Guru Indonesia. Kini aku, Nur, Anti dan pak Neming menunggu mereka kembali di depan sebuah warung sederhana milik warga lokal yang sangat ramah.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya mereka pun tiba di saat kami berempat sedang menyantap makan siang kami, yaitu semangkuk mie goreng buatan ibu warung yang kami singgahi. Lambung pun telah terisi saatnya melanjutkan perjalanan untuk mengantarku ke lokasi penempatan, SD Negeri Kutakarang 1. Sekitar 2 jam perjalanan baru aku tiba di rumah kepala sekolah tempatku akan mengabdi selama setahun, berjumpa dengan Pak Dudu, nama kepala sekolahku, beliau begitu ramah dan baik hati. Kemudian aku bertemu dengan salah seorang guru yang bernama Pak Sanusi, beliau guru kelas 6, guru pertama yang membantuku hingga ke tempat tinggalku.
Jarak antara rumah kepala sekolah ke sekolah lumayan jauh juga, sekitar 5 hingga 6 km, dengan kondisi jalanan yang becek dan berbatu. Sulit ditempuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua, jangankan memakai kendaraan, jalan kaki pun terasa sulit. Sungguh ironi sekolah di pelosok.
Hampir maghrib, aku dan rombongan baru tiba di rumah tempat tinggalku, rumah yang ditempati oleh Pak Ajum, salah satu guru di SD tempatku mengabdi, orangnya ramah, baik dan terkenal sebagai master memasak. Untuk mencapai rumah pak Ajum, mesti jalan kaki sekitar 1 hingga 1,5 km dari lokasi penyimpanan kendaraan, karena kendaraan roda empat tak bisa sampai di sekolahku, hanya bisa menggunakan roda dua, itu pun digunakan hanya ketika musim kemarau, jika musim hujan kayak ini sulit untuk dilalui, kecuali bagi mereka yang telah mahir dan terbiasa.
Barang bawaanku pun di bantu oleh rekan – rekanku yang lain dan juga dibantu oleh pak Sanusi, beliau menjunjung koperku dipundaknya. Bukan main beratnya koperku yang berisikan pakaian dan buku – buku yang akan menemaniku selama setahun di tempat ini.
Setibanya aku di rumah pak Ajum, kami di suguhi oleh mangga dan air minum, sungguh nikmat rasanya, udah lama tak merasakan buah mangga seperti ini. Menjelang maghrib, teman – temanku dan para rombongan bergegas untuk melanjutkan perjalanan kembali, meninggalkanku di sini untuk berjuang melawan kesendirian dan berjuang untuk berteman dengan lingkungan baru, kondisi baru, kebiasaan baru, adat istiadat yang baru dan orang – orang yang baru pula. Sungguh perpisahan yang mengharukan, terbersit di raut wajah mereka, sungguh tak tega mereka meninggalkanku di sini, rasanya ingin bersama mereka secara terus menerus, tapi inilah kenyataan yang mesti kami alami, skenario Tuhan pasti ada hikmah di balik apa yang kami alami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar