Selasa, 07 Oktober 2014

ISMA dan JAMBU MERAHNYA



ISMA dan JAMBU MERAHNYA
Sekonyong-konyong aku berjalan keluar dari sekolah tempatku magang di hari kamis yang cerah, kristal-kristal air di langit tampak tak bergandengan di akibatkan telah tumpah dihari sebelumnya, matahari tampak ganas memancarkan sinarnya menambah energi kehidupan yang banyak memberi senyum terindah kepada mereka yang lagi membutuhkannya.
Kehidupan itu memang unik, ada kalanya kita mesti menengok orang lain agar kita bisa memperbaiki perilaku dan sikap kita, ada pula kita meminta pendapat kepada seseorang hanya untuk sekedar memberi penilaian kepada apa yang telah kita lakukan dihari itu, bahasa inteleknya biasa disapa dengan kata refleksi. Banyak cara untuk melakukan refleksi, termasuk dengan bercerita dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Cara ini biasa juga digunakan untuk mengetahui tabiat atau sikap asli seseorang, tentunya orang yang paham betul dengan dia atau orang yang paling dekat dengannya.
Kamis, 2 Oktober 2014, aku keluar dari sekolah tempatku magang, denga tertatih ku berjalan di bawah terik matahari yang dengan nyaman memberikan cahayanya. Aku ditemani oleh dua orang sahabatku yang juga statusnya sama denganku, guru magang, pergi untuk menemui orang tua dari siswaku. Jarak rumahnya dengan sekolah tidak begitu jauh, jalan sebentar saja langsung tiba. Jadi panasnya terik matahari tidak begitu menyengat kulit yang telah lain rasanya akibat pemanasan global yang semakin tinggi.
Aku sadar kunjungan ini membuatku tak enak hati, bagaimana tidak, ketika aku tanyakan pada para siswaku dikelas, bahwasanya siapa yang bersedia dikunjungi rumahnya untuk ngobrol bersama orang tuanya, banyak yang mengacungkan tangan, mengisyaratkan bahwa mereka ingin rumahnya di kunjungi oleh guru baru mereka. Dan untuk kunjungan kali ini, kunobatkan ke rumah Isma, lengkapnya Ismayanti. Siswi kelas IV-B itu terkenal sering terlambat datang disekolah. Hal inilah yang menjadi faktor kenapa arisan ke rumah orang tua jatuh padanya.
Setiba dirumah Isma, aku bertemu dengan ibu, ayah dan keponakannya. Mereka asyik bercengkrama di bawah pohon nan rindang dengan balutan angin tengah hari yang begitu menggoda mata untuk menutup agar beristirahat. Aku terperangah, melihat pohon nan rindang tersebut, bagaimana tidak, pohon tersebut tengah menunjukkan betapa suburnya ia, dengan bergelantungannnya buah hasil dari penyerbukan, dimana benang sari yang hinggap di kepala putik dan bakal biji mulai berkembang, dan akhirnya akan jadi buah. Proses yang panjang, sistematis dan butuh proses, hingga terlihat seperti kawanan sawah yang menguning akibat padi yang telah tumbuh dan siap untuk di panen. Hal ini pun terlihat pada pohon jambu di hadapanku, daunnya yang hijau nan lebat bercampur dengan megahnya buah berwarna merah, menambah semangat setiap orang yang melihatnya. Dari bagian bawah hingga pucuk daunnya sangat indah di pandang mata. Sedari tadi kutatap para sahabatku pun terkagum dengan apa yang nampak dihadapannya.
Sedikit aku lupa, tersadar dalam lamunanku melihat pohon indah ini. Dari tadi kulihat tuan rumah pun sibuk dengan peralatannya memberikan suguhan pada kami. Membawa senampan, diatasnya tergeletak tiga buah gelas dan sebotol air dingin sekedar pelepas dahaga di siang itu. Ditambah lagi, ayah Isma mengambilkan kami jambu yang masih segar, langsung dari pohonnya. Sungguh nikmat hari ini, batinku dalam hati.
Ketika suasana mulai kondusif, kami tak begitu lagi menomorsatukan kekaguman kami terhadap apa yang kami lihat, tapi lebih kepada fokus terhadap maksud dan tujuan kami datang berkunjung ke rumah Isma. Aku pun mulai memberitaukan maksud kami, asal kami dari mana dan tujuan kami datang.