Selasa, 14 Oktober 2014

Ala Bisa Karna Biasa



 Part 1
 
“...Ala bisa karna biasa...”
Inilah kutipan pembuka kali ini sahabat. Aku terkadang tak mengerti mesti memulai sesuatu itu dari mana, sama halnya ketika ingin menyampaikan sesuatu ide atau pendapat, butuh tenaga super ekstra agar aku mampu mengeluarkan sepatah dua kata hingga ide tersebut terlontar dari bibirku.
Kebiasaan memang menjadi sesuatu hal yang sangat penting dalam menjalani hidup ini, kita bisa mengerjakan sesuatu hal karna terkadang bahkan hampir kebanyakan orang pada umumnya melakukannya karna ia telah pernah melakukannya. Dalam artian bahwa, seseorang dikatakan mahir memainkan salah satu alat musik karna ia terbiasa memainkan alat tersebut. Contohnya saja, seorang gitaris hebat, sebut saja Eross Chandra (gitaris band Sheila On 7) mahir bermain gitar karna ia selalu memainkan gitarnya, hampir tiap hari, karna ia terbiasa maka ia mahir.
Hal inilah, yang ku coba untuk bangun pada siswa-siswaku dipertemuan pertama, saat magang di SD Negeri Lebakwangi pada kelas IV-A, para generasi emas penerus bangsa ini. Mencoba untuk memberikan kebiasaan baik dengan mencintai lingkungan sekitarnya dengan cara yang paling sederhana, memungut sampah atau kotoran di sekitar mereka terutama di ruangan kelas. Yang paling aku tekankan ialah mengecek ada tidaknya sampah di laci mereka dan di bawah kursi atau meja mereka.
Awalnya mereka seperti ogah-ogahan untuk memungut sampah yang ada di sekitarnya, malah terkadang aku mendengar suara sumbang mengetuk dinding gendang telingaku, “aduh pak guru ini suruh memungut sampah, padahal ada petugas kebersihan, ada pak Nayar atuh...”. ketika dengar suara sumbang tersebut aku hanya bisa untuk mengelus dada, sembari berkata “ala bisa karna biasa” batinku dalam hati.
Kebiasaan ini ku coba untuk mengulanginya lagi di keesokan harinya ketika aku mengajar di kelas mereka. Walaupun belum semuanya siswa yang tergerak hatinya untuk memungut sampah, tapi sudah ada peningkatan yang terlihat pada para siswa-siswaku ini. Kemarin, awal aku masuk di kelas mereka, sampah seperti kertas dan gelas minuman berdiri kokoh mendongak secara angkuh merasa yang paling hebat, tanpa ada yang berani mengindahkannya. Tapi hari kedua ini, mereka tak mampu lagi menyombongkan dirinya, karna ada para siswa bakal pecinta kebersihan yang akan memerangi mereka. Ya, benar saja para siswa-siswaku ini mengalami kemajuan dalam mencintai kebersihan dilingkungan sekitarnya. Mereka lebih peka terhadap hal-hal yang ganjil di mata mereka.
Pertemuan berikutnya, lebih mengesankan lagi bagi ku, siswa-siswi kebangganku ini, yang tadinya mesti ada aba-aba atau peringatan bahwa kita mesti menjaga kebersihan lingkungan kelas, tapi kali ini mereka punya hasrat untuk memeriksa sendiri dan membuangnya di tempat yang seharusnya ketika mereka mendapatkan sampah atau kotoran di sekitarnya. Bahkan yang dulunya berceletuk dengan suara sumbang, kini tak terdengar lagi, malah ia yang paling bersemangat dan menggerakkan teman-temannya untuk memeriksa laci dan kolong meja serta kursi mereka masing-masing. Aku terkesan pada anak-anak ini, melakukan dengan sepenuh hati dan ikhlas yang terpancar dari diri mereka, terlihat dari wajah-wajah yang begitu semangat mencari sampah yang ada di sekitarnya.